PWI DIY Ziarahi Makam-Makam Tokoh Pers

Ketua PWI DIY, Sihono (kiri) menaburkan bunga di makam salah satu pahlawan di Taman Makam Pahlawan Wiyata Brata, Tahunan, Jogja, Rabu (20/2/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
20 Februari 2019 14:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai pilar keempat bangsa ini, peran media massa tak bisa dianggap remeh. Salah satunya adalah terkait dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itulah jurnalis diminta untuk selalu taat pada Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Kami prihatin, sejak masa reformasi 1998, banyak wartawan tidak lagi berjalan dalam kerangka ideologi. Saya berharap para wartawan bisa mengembalikan hati, pikiran dan karya menuju ideologi Pancasila," ujar Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY, Sihono saat bersiarah ke makam tokoh pers di Taman Makam Pahlawan Wiyata Brata, Tahunan, Jogja, Rabu (20/2/2019) pagi.

Dalam ziarah yang rutin dilakukan PWI DIY tersebut, selain mendoakan, kata dia, wartawan juga diharapkan bisa meneladani apa yang dilakukan oleh para pejuang pers masa lalu, salah satunya sikap nasionalisme yang tinggi. Menurut Sihono, di akhir-akhir ini, kecintaan wartawan terhadap bangsa dan negara agak luntur.

Menurut dia, kepentingan bisnis, ekonomi, politik kerap lebih didahulukan ketimbang kepentingan rakyat. "Kepentingan masyarakat tidak mendapat porsi yang semestinya. Ayo kembali ke ideologi kita, sebagai wartawan yang taat Pancasila, mendorong masyarakat gotong-royong saling tolong, menjaga persatuan, mengutamakan musyawarah dan mufakat," kata dia.

Lewat ziarah, PWI DIY juga ingin mengajak segenap pihak untuk mau mengingat kematian. Lebih dari itu, hendaknya menyadari untuk menjadi manusia yang bermanfaat sebelum kemudian meninggal dunia. Meneladani nasionalisme tokoh pers juga bisa dilakukan, sebagai cara belajar menjadi wartawan lebih baik ke depannya.

Ketua Panitia Ziarah Tokoh Pers PWI DIY, Hudono mengungkapkan, setelah ziarah ke makam Ki Hajar Dewantara dan keluarga di Taman Makam Wijaya Brata, rombongan ziarah selanjutnya menuju Makam Sonyoragi, Makam Pringwulung dan menziarahi makam pejuang pers Pancasila, Wonohito. Di sana, rombongan juga akan bersama-sama mengingat perjuangan almarhum dalam berkontribusi mengembangkan pers di Indonesia.

Agenda selanjutnya menuju ke Makam Krapyak sekaligus mengunjungi keluarga almarhum Kusfandi, seorang pendiri Bernas, salah satu media lokal Jogja. Menurut Hudono, di masa kekinian, tantangan wartawan begitu berat, apalagi saat ini sudah memasuki tahun politik. Kendati demikian wartawan tetap harus mampu menjaga independensi dari kepentingan tertentu.

"Wartawan harus berpihak pada kebenaran, berjuang untuk kepentingan bangsa dan rakyat, itu tidak mudah. Menjadi pers independen adalah seni, namun tidaklah gampang diwujudkan," ujarnya.