Geng Koplak Dibina Polisi

Latihan baris-berbaris yang diberikan kepada anak-anak usia SMP dan SMA/K sebagai salah satu bentuk pembinaan oleh aparat kepolisian Polresta Jogja, Selasa (12/3/2019). Pelajar-pelajar ini diamankan petugas kepolisian, saat berkumpul-kumpul di wilayah Wirobrajan, Minggu (10/3/2019) lalu. Pembinaan bukan hanya diberikan kepada pelajar ini, tetapi juga kepada orang tua mereka. ( - Harian Jogja/Uli Febriarni.
13 Maret 2019 14:07 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sekitar 20 pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) tergabung dalam geng koplak yang digelandang oleh aparat Polresta Jogja, Minggu (10/3/2019) dini hari WIB, mengikuti pembinaan di Mapolresta Jogja, Selasa (12/3/2019).

Kapolresta Jogja, Kombes Pol Armaini mengatakan pembinaan tersebut dilakukan untuk mengedukasi para pelajar terkait dengan bahaya dampak kenakalan remaja, terutama yang mengarah pada kekerasan. Dia berharap pembinaan yang dilakukan polisi terhadap para pelajar itu bisa dilanjutkan secara intensif nantinya oleh orang tua mereka masing-masing.

“Itulah kenapa yang kami bina tidak hanya anak-anaknya, tetapi juga orang tuanya,” kata Armaini saat ditemui di Mapolresta Jogja, Selasa.

Melalui pembinaan kepada orang tua, dia berharap upaya kepolisian dalam meminimalkan kejahatan jalanan bisa terbantu oleh kontrol dari para orang tua. Orang tua, kata Kapolresta, harus mencegah anak-anak mereka bergaul apalagi nongkrong-nongkrong hingga pulang terlalu larut malam. “Karena itulah, jika kami melihat banyak anak nongkrong-nongkrong di jalan, mereka pasti kami minta untuk pulang,” ucap dia.

Armaini juga mengimbau setiap orang tua bisa lebih cermat dalam mengamati dan mengawasi pergaulan anak. Hal itu untuk mencegah anak-anak mereka menjadi korban atau pelaku kekerasan jalanan.

Selain tindakan represif berdasarkan hukum, Polresta diakui dia juga menerapkan langkah preemtif dengan cara sosialisasi dan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan preventif dalam menangani kekerasan jalanan. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan patroli pada malam dan dini hari menyusuri sejumlah titik yang dianggap potensial menjadi lokasi kumpul-kumpul anak muda. Polresta mengaku sudah mengantongi hasil pemetaan titik-titik ini.

"Sering kami temui, anak-anak usia SMP, SMA nongkrong dengan alasan main game online, memanfaatkan jaringan internet gratis. Namun, satu di antaranya mereka ada yang bagian tubuhnya terluka, katanya karena diserang kelompok lain," ujarnya.

Semua Rawan

Kendati begitu, dia menegaskan tidak ada lokasi yang kemudian serta-merta disebut rawan kekerasan jalanan. Pasalnya seluruh wilayah di Jogja adalah lokasi yang rawan kejahatan kekerasan jalanan.

Selain itu, bila dari patroli itu didapati anak-anak yang membawa senjata tajam, anak-anak itu selanjutnya diproses hukum. Temuan itu mengindikasikan mereka sudah memiliki niat untuk melakukan kekerasan jalanan.

Seperti diketahui, 20 pelajar yang belakangan diketahui tergabung dalam geng bernama Koplak itu digelandang petugas, Minggu, pukul 03.30 WIB. Mereka ditangkap saat sedang bergerombol di seputaran Jalan Letjen S. Parman, Kampung Sindurejan, Kecamatan Wirobrajan.

Penangkapan dilakukan lantaran salah satu dari mereka kedapatan membawa senjata tajam berupa celurit.

Kasubag Humas Polresta Jogja, Iptu Sartono menjelaskan para pelajar yang tergabung dalam geng Koplak itu, diduga hendak tawuran. “Mengetahui adanya temuan senjata tajam, petugas langsung membawa mereka ke Mapolresta Jogja,” kata dia.