Gunakan Twitter, Begini Modus Prostitusi Online yang Melibatkan Mahasiswi dan SPG di DIY

Kabid Humas Polda DIY AKBP Yuliyanto (kiri) didampingi Kasubdit 5 Ditreskrimsus Polda DIY AKBP Edi Sutanto (kanan), dan pelaku HP, saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (18/3/2019) di Mapolda DIY. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
18 Maret 2019 19:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Dua orang muncikari yang ditangkap Kepolisian Daerah (Polda) DIY beroperasi menggunakan media sosial.

Kedua muncikari tersebut berinisial CK, 33, perempuan, warga Maguwoharjo, Sleman, dan HP, 25, laki-laki, warga Tanjung Penyembal, Dumai.

Kasubdit 5 Ditreskrimsus Polda DIY AKBP Edi Sutanto mengatakan, modus yang dilakukan oleh CK adalah dengan menerima permintaan booking online perempuan melalui aplikasi whatsapp, setelah menerima permintaan, CK mengirim foto-foto angel yang dimiliki dan membuat kesepakatan harga dan tempat.

“Pembayaran ditransfer ke rekening CK, dan nantinya, 30 persen akan dipotong untuk pelaku, dan 70 persen untuk angelnya,” ujar Edi, Senin (18/3/2019) di Mapolda DIY.

Sedangkan pelaku HP, kata Edi, menggunakan modus dengan mengiklankan angel (sebutan untu perempuan yang bertugas melayani nafsu hidung belang) melalui media twitter.

HP, kata Edi, membuat 15 akun twitter yang dikelola sendiri untuk melakukan kesepakatan harga dan tempat kepada pengguna jasa. Saat pengguna dan pelaku telah deal, HP akan memotong 30% dari harga yang disepakati.

Pelaku CK memiliki 20 angel, sedangkan HP memiliki 15 angel. “Rata-rata angel merupakan mahasiswi dan SPG dengan tarif bervariasi, mulai dari Rp1,1 juta hingga Rp 3 juta,” tambah Edi.

Dari tangan kedua mucikari, polisi menyita barang bukti berupa ponsel, uang tunai senila Rp1,1 juta, kondom, kartu kamar hotel, bukti transfer, dan screen capture percakapan melalui media whatsapp.

Karena perbuatannya, CK dijerat pasal 45 Ayat (1) jo Pasal 27 Ayat (1) UU NO.19/2016 tentang perubahan atas UU NO.11/2018 (memiliki muatan yang melanggar kesusilaan), dan Pasal 296 KUHP, sedangkan HP dijerat pasal yang sama dan ditambah Pasal 2 ayat (1) UU 21/2007 tentang perdagangan orang serta Pasal 30 jo Pasal 4 ayat (2) UU 44/2008 tentang Pornografi.