Soal Tanah Longsor di Imogiri, Sultan: Perencanaan Pembangunan Kurang Cermat

Warga menyaksikan titik ambrolnya salah satu sudut Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, belum lama ini. - Harian Jogja/Desi Suryanto
22 Maret 2019 14:52 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Gubernur DIY Sri Sultan HB X menilai ada kesalahan perencanaan dalam pembangunan talut baru di kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul. Hal itulah yang ia nilai sebagai biang longsornya talut sisi timur bagian selatan kompleks makam tersebut sehingga menimbulkan korban jiwa.

Sultan mengatakan struktur tanah di Bantul bagian timur, seperti Imogiri merupakan tanah lempung. Dulu kawasan yang saat ini longsor tidak ada bangunan, kemudian dibangun talut sehingga ruang penyerapan air hujan kian sempit.

Karena sifat lempung menyerap air, sementara kemiringannya tinggi tanpa ada talut dari bagian bawah menyebabkan talut utama longsor karena menahan beban berat. "Saya berpendapat mestinya dari bawah sudah dikasih talut atau terasiring. Jadi memang kurang cermat, mestinya dimulai dari situ [dari bawah]," kata Sultan, saat meninjau bencana banjir dan tanah longsor di SD Pundung, Wukirsari, Imogiri, Jumat (22/3/2019).

Untuk membangun kembali talut utama di lokasi bekas longsor, menurut dia perlu membangun talut dari bawah terlebih dahulu, "Kalau tidak ya longsor lagi," ucap Sultan.

Sekedar diketahui lonsor talut kompleks maam Raja-raja di Imogiri terjadi pada Minggu (17/3/2019) malam lalu. Talut sepanjang sekitar 50 meter dan tinggi sekitar 100 meter itu ambrol menimpa dua rumah di bawahnya di wilayah Dusun Kedungbuweng, Wukirsari, Imogiri.

Tiga orang dinyatakan meninggal dunia karena tertimbun material longsor tersebut. Ketiganya adalah Tresno Sujiatmojo, 91, Eko Suprapti, dan Rufi Kusuma Putri.

Disinggung soal membangun talut kembali, Sultan meminta perlu perencanaan yang matang. Soal anggaran kemungkinan bisa menggunakan Dana Keistimewaan (Danais). Diketahui saat ‎ini penanganan sementara longsor di seitar kompleks makam Raja-raja hanya menutup bekas longsor dengan terpal.

Sebanyak 50 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Tim SAR, dan relawan memasang terpal. Ada sekitar 220 terpal, setiap terpal ukuran 9x5 meter persegi.

Terpal itu kemudian dijahit dan dijadikan satu untuk menutup kawasan longsor seluas sekitar 4000 meter persegi. "Sementara ini prosesnya baru menutup dengan terpal untuk mengantisipasi supaya air hujan tidak masuk tanah bekas longsor untu menghindari longsor susulan," ucap Adrian ‎Dwi Roy, salah satu anggota TRC BPBD DIY.