Ruang Publik Menjadi Wadah Pengembangan Potensi Seni-Budaya Kotagede

Para pemuda Purbayan, Kotagede setelah tampil dalam pentas seni. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
29 Maret 2019 06:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com JOGJA--Kotagede memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat kaya. Daerah ini tercatat pernah menjadi pusat Kasunanan Mataram. Tak heran jika berkunjung ke sini, kita akan mudah menemui bangunan-bangunan dengan arsitektur klasik, kegiatan-kegiatan seni masyarakat, juga kerajinan dan kuliner khas.

Purbayan adalah salah satu dari tiga kelurahan di Kotagede. Purbayan berada di bagian selatan, yang di atasnya berdiri Pasar Kotagede, dimana tak jarang digunakan untuk menyelenggarakan event-event seni-budaya, salah satunya adalah Festival Keronocong, yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata.

Kehidupan masyarakat Kotagede tak bisa dilepaskan dari nafas seni budaya. Ada begitu banyak sanggar dan kelompok seni yang dijalankan oleh masyarakat, tak terkecuali pemuda. Ruang-ruang publik yang tersebar di Kotagede menjadi wadah bagi sanggar dan kelompok seni untuk berlatih.

Kepala Lurah Purbayan, Suradi, mengatakan kepada Harian Jogja, Kamis (28/3/2019), ada beberapa tanah kosong di Purbayan yang semula berada di tanah milik warga, kemudian dikembangkan oleh pemerintah untuk dijadikan ruang publik, seperti panggung kesenian, Gedung serba guna, dan taman.

Suradi menargetkan agar setiap kampung memiliki ruang publik khusus. Sementara untuk masing-masing RW, ruang publik bisa dimaskimalkan di sarana yang sudah ada, semisal di masjid. “Kalau ada tanah yang nganggur kita tawarkan agar dibangun dan didesainkan sama pemkot buat ruang publik,” katanya.

Beberapa kesenian yang hidup di Purbayan, kata Suradi, adalah sanggar tari, karawitan, kethoprak, teater dan keroncong. Pelaku seni ini didominasi oleh generasi muda. “Sering kelompok-kelompok itu nanti didpentaskan,” ungkap Suradi.

Selain untuk pengembangan potensi seni-budaya, ruang publik di Purbayan juga banyak digunakan untuk pengembangan potensi ekonomi warga. Beberapa pelatihan yang sudah dilakukan seperti pembuatan roti kering, batik, bisnis online, dan sebagainya. “Narasumber bisa dari warga sendiri atau kalau nggak bisa cari dari luar,” katanya.

Camat Kotagede, Rajwan Taufiq, mengatakan di Kotagede terdapat ruang publik yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung tema Kotagede, yaitu budaya. Kegiatan-kegiatan ini menurutnya, digerakkan oleh para pemuda.

“Sering di sini ruang-ruang publik digunakan untuk kegiatan seni, termasuk di areal kecamatan ini juga sering buat latihan tari setiap kamis dan minggu, ada juga latihan macapat, setiap tanggal 16,” kata Rajwan.

Ia membagi Kotagede berdasarkan karakteristiknya menjadi dua, sisi selatan, terdapat kelurahan Purbayan dan Prenggan. Wilayah ini berkarakteristik wisata yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat luas sebagai peninggalan Kesultanan Mataram. Sedangkan sisi utara merupakan pengembangan wisata yang lebih alternatif, seperti gembiraloka, agro, kuliner, kerajinan dan sebagainya.

Untuk daerah Purbayan, karena telah menjadi salah satu icon wisata, ia berharap agar masyarakat tidak saja menjadi penonton, melainkan juga ambil peran. Untuk itu Ia berusaha mengembangkan selain kerajinan, juga kuliner khas Kotagede, seperti kipo, waru, emping mlinjo dan sebagainya.