Sleman Kaji Kebijakan Penanggulangan Vandalisme

Ilustrasi petugas menghapus grafiti hasil aksi vandalisme orang tidak bertanggung jawab pada rangkaian Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta di Depo Lebak Bulus, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - ANTARA FOTO/Humas MRT Jakarta
07 April 2019 09:37 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Vandalisme merupakan masalah sosial yang cukup sering terjadi di wilayah Kabupaten Sleman. Oleh karenanya, pemerintah kabupaten (Pemkab) Sleman menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk mengkaji kebijakan penanggulangan vandalisme.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Sleman, Iriansya menjelaskan, vandalisme merupakan salah satu tindakan kriminalitas di kalangan remaja, bahkan banyak diantara pelakunya adalah pelajar. Namun, kata dia, penanggulangan terhadap permasalahan tersebut seringkali masih dipandang sebelah mata, karena dianggap sebagai bentuk kenakalan kecil yang tidak begitu berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

"Vandalisme adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan remaja seperti merusak lingkungan baik itu lingkungan pribadi ataupun umum, akibatnya rusak keindahan dan kelestarian alam," katanya, Jumat (5/4/2019). 

Ia mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan Pemkab Sleman guna menekan kasus vandalisme ini. Mulai dari sosialisasi, pendidikan karakter di sekolah, hingga pembentukan desa karakter. Saat sosialisasi di jelaskan, kalau tindakan vandalisme tidak bisa disamakan dengan mural atau grafiti.

Selain itu, ia mengatakan pihaknya akan memfasilitasi kajian kebijakan penanggulangan vandalisme dalam tiga kali pertemuan FGD pada tahun ini dengan sasaran generasi muda.

“Generasi muda nya yakni karang taruna, karena mereka garda terdepan di desa maupun dusun dalam menghadapi permasalahan sosial, salah satunya vandalisme," ucap dia.