Untuk Kopi Suroloyo, Tradisi Wiwitan Siap Dilangsungkan

Salah satu petani kopi Suroloyo, Windarno, menunjukkan buah kopi yang siap petik di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Minggu (14/4/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
15 April 2019 06:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Para petani kopi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh berencana menghidupkan kembali tradisi wiwitan menjelang panen raya kopi Suroloyo. Masa panen diperkirakan pada awal Mei tahun ini.

Salah satu petani kopi Suroloyo, Windarno, mengungkapkan upacara adat wiwitan merupakan wujud syukur kepada sang pencipta atas hasil panen para petani. Dulunya tradisi ini rutin diadakan namun berjalannya waktu mulai ditinggalkan.

“Rencananya mau diadakan lagi tetapi belum tahu jadwal pastinya karena wiwitan itu kalau leluhur bilang kan sebagai ucapan syukur atas hasil panen,” ujarnya, Minggu (14/4/2019). Rencana menghidupkan tradisi ini juga berkaitan dengan harapan petani ikhwal hasil panen kopi Suroloyo yang tahun ini ditargetkan mencapai lima ton kopi basah.

Beberapa buah kopi di antaranya sudah matang sehingga bisa dipetik terlebih dahulu. Hasil panen tersebut diperoleh dari delapan hektare lahan tanam berstatus tumpang sari. Padahal, pada 2018 mereka harus menelan pil pahit lantaran hasil panen tak sesuai ekspektasi. Di tahun itu kemarau panjang tengah melanda Kulonprogo sehingga hasil panen menurun drastis.

Selain petani Kopi Suroloyo, panen raya juga akan dirasakan para petani kopi Nglinggo di Dusun Nglinggo Barat, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh. Kopi Nglinggo rencananya bisa dipanen pada pertengahan Mei hingga Juni mendatang.

Ketua Kelompok Mekar Tani Dusun Nglinggo Barat, Teguh Kumoro, berharap hasil panen kopi tahun ini bisa melimpah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kelompoknya menargetkan kopi Nglinggo yang bisa dipanen mencapai empat ton.

“Kalau tahun ini karena cuaca lumayan baik, saya optimistis produksi bisa bagus,” ujarnya. Selain optimistis hasil panen meningkat, Teguh juga yakin produksi kopi Nglinggo yang telah diolah turut mengalami peningkatan.

Penyebabnya, belum lama ini kelompok tersebut mendapatkan bantuan mesin pengupas kulit kopi dari salah satu universitas swasta di Jogja. Sebelumnya seluruh proses dilakukan secara manual sehingga produksi kopi tak bisa konsisten dan cenderung mengalami penurunan.