Tambah Kuota Haji 10.000, BPKH dan Kemenag Tidak Akan Gunakan APBN

Ilustrasi ibadah haji dan umrah. - JIBI
18 Mei 2019 14:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Tambahan kuota haji sebanyak 10.000 jamaah dipastikan tidak akan menggunakan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal ini disampakan Sekretaris Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Emir Rio Krisna kepada wartawan, Jumat (17/5/2019).

Keputusan ini mengacu pada keputusan rapat BPKH dengan DPR Komisi VIII pada kamis (16/5/2019). Dana untuk kuota tambahan sebesar Rp319,9 miliar ini semula bersumber dari BPKH, Kemenag dan APBN.

"Selain itu nominal ini juga telah direvisi berdasarkan kajian Kemenag dan DPR, dari yang sebelumnya sebesar Rp353,7 miliar," kata dia.

Adapun rincian sumber pendanaan tersebut yakni BPKH Rp120 miliar dan Kemenag Rp50 miliar. Sisanya pasca revisi, yakni Rp149,9 miliar, akan diambil dari nilai manfaat keuangan haji BPKH sebesar Rp100 miliar dan sisanya dari relokasi anggaran layanan akomodasi di Makkah dan peningkatan layanan transportasi antar kota sebesar Rp49,9 miliar.

Relokasi yang dimaksud adalah dana kemaslahatan yang semula akan digunakan untuk manasik di Kantor Urusan Agama (KUA), dialihkan untuk membiayai sebagian akomodasi jamaah lansia di Makkah. Sedangkan manasik akan diambil dari indirect cost Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2019.

Kepala BPKH, Anggito Abimanyu, mengatakan saat ini saldo keuangan haji yang dikelola BPKH sebesar Rp115 triliun. Angka ini meningkat Rp10 triliun dibanding tahun sebelumnya, yakni Rp105 triliun.

Ia mengatakan, prioritas penempatan dan investasi keuangan haji BPKH pada instrumen keuangan perbankan syariah dan objek investasi surat berharga syariah yang aman, berisiko rendah, likuid dan optimal.

Ia melanjutkan saat ini Indonesia tengah mengupayakan investasi di Arab Saudi berupa hotel dan pabrik makanan siap saji. Pabrik makanan ini sudah hampir disepakati, dengan nilai investasi 35% untuk Indonesia dan 65% untuk Arab Saudi.

Kata dia, Indonesia berani berinvestasi karena memang pasarnya sudah dipastikan, yakni jamaah haji seluruh dunia. "Yang sudah pasti ya jamaah Indonesia, jadi kami berani investasi di situ," katanya.

Pabrik makanan ini berlokasi di belakang Mina. Skala pabrik ini cukup besar, dengan jumlah produksi sekitar tiga juta setiap tahun. Makanan yabg diproduksi adalah makanan siap saji dan tahan lama, mampu bertahan hingga satu tahun.