KASUS ANTRAKS: Belum Ada Kejadian, Pemkab Sleman Tetap Waspada

Ilustrasi sapi. - Harian Jogja
24 Mei 2019 13:47 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kendati hingga saat ini belum ditemukan kasus antraks di Sleman, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman tetap waspada dan terus mengantisipasi menjangkitnya penyakit itu di Bumi Sembada.

“Kalau wilayah tetangga [Gunungkidul] ada kejadian, tentu kami waspada. Kami waspada jual beli hewan ternak khususnya sapi dan kambing. Apalagi berasal dari daerah yang terdapat kasus antraks. Antraks ini kan sifatnya bakterial dan kalau di alam terbuka bisa menjadi spora,” kata Kepala Bidang (Kabid) Peternakan DP3 Sleman, Harjanto, Kamis (23/5/2019).

Dia mengaku telah menyampaikan kepada para peternak, khususnya dalam proses jual beli hewan ternak untuk hati-hati dan selalu menyertakan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). “Itu kan sudah sesuai dengan prosedur dalam jual beli, harus menyertakan SKKH yang dikeluarkan oleh dinas,” ucap dia.

Selain itu, kata dia, dinasnya juga rutin melayani pemeriksaan hewan ternak dari kelompok-kelompok ternak yang tersebar di seluruh wilayah Sleman. “Jadi digilir per kelompok, tiga hingga empat bulan sekali kami ada pelayanan. Kalau sewaktu-waktu ada hewan yang sakit dan tidak ada layanan pemeriksaan, para peternak juga kami minta untuk melapor,” ucap dia.

Disinggung soal lalu lintas jual beli hewan ternak yang rawan jadi biang menyebarnya penyakit, termasuk antrax di Sleman, ia belum bisa menjelaskan secara rinci. Pasalnya kendati sudah ada pos lalu lintas hewan ternak, para penjual masih bisa menjual lewat jalur-jalur lain. “Untuk lalu lintas hewan ternak juga merupakan kewenangan provinsi,” kata dia.

Di Sleman, kata dia, sempat muncul kasus antraks beberapa tahun yang lalu, yakni di wilayah Kaliurang. “Sesuai SOP, kalau ada kematian hewan ternak mendadak dan beruntun, pasti akan kami lakukan cek ke lab untuk memastikan penyebab kematiannya. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, jika suatu daerah ada kasus antraks,” kata dia.

Salah seorang peternak di Dusun Jaten, Desa Sendangadi, Mlati, Supriyadi, mengaku khawatir dengan penyebaran kasus antraks, sebab, ia tidak mengetahui secara pasti gejala-gejala hewan yang terinfeksi antraks. “Di daerah sini memang belum pernah ada, karena juga sudah ada program rutin dari dinas pemberian vaksin dan imunisasi, namun tentu juga ada kekhawatiran,” kata dia.