UGM & UNY Bantah Ada Islam Eksklusif di Kampus

Rektor UGM Panut Mulyono diwawancarai awak media saat memenuhi panggilan ORI DIY, Selasa (8/1/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
24 Mei 2019 23:02 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dua perguruan tinggi negeri (PTN) di Jogja, yakni UGM dan UNY menyatakan dengan tegas tidak ada gerakan islam eksklusif di lingkungan kampus mereka. Hal ini menanggapi hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta dan beberapa perguruan lain yang menyatakan gerakan Islam eksklusif berkembang di delapan perguruan tinggi di Indonesia.

Perguruan tinggi tersebut yakni UNS, IAIN Surakarta, Undip Semarang, Unnes Semarang, UGM, UNY, Unsoed Purwokerto, dan IAIN Purwokerto.
Rektor UNY Prof. Sutrisna Wibawa mengungkapkan gerakan Islam eksklusif tidak ada di UNY. Di UNY ada unit kegiatan kerohanian Islam dan takmir di Masjid Mujahidin. Dia mengaku ada sejumlah antisipasi yang sudah dilakukan UNY dalam mencegah gerakan radikalisme itu muncul.

"Selama ini kami tidak menangkap sesuatu yang aneh," kata dia, Jumat (24/5/2019).

Rektor UGM Prof. Panut Mulyono menyatakan belum mengetahui secara mendetail perihal hasil penelitian UNUSIA. Panut tidak membantah hasil penelitian yang menurut dia berbasis fakta tersebut. Hanya menurutnya, penting untuk menguji fakta yang ditemukan dalam penelitian.

"Namun yang terpenting adalah UGM sudah berusaha agar kelompok radikal, paham radikalisme, Islam eksklusif dan paham yang aneh-aneh itu tidak ada di tengah mahasiswa UGM," ujarnya.

Setelah ini, lanjut Panut, UGM akan mencoba berkomunikasi dengan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. "Ya tentu kami akan menanyakan, akan berdiskusi, akan seperti apa lah," kata Rektor.

Panut menegaskan UGM sudah berkomitmen memerangi paham-paham radikal yang berkembang di kampus. "Bagaimana usaha kami agar kelompok-kelompok radikal tidak punya tempat di kampus. Jadi itu yang selalu UGM usahakan," jelas Panut.

Menurut Panut, usaha UGM dalam memerangi paham radikal di kampus telah mendapat apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
"Dulu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme merilis sekian perguruan tinggi terpapar radikalisme, UGM enggak ada namanya di situ," kata mantan Dekan Fakultas Teknik UGM ini.

LPPM UNUSIA menyebutkan kelompok Islam yang bergerak secara eksklusif berkembang pesat di delapan perguruan tinggi negeri. Dikhawatirkan pergerakan ini akan menumbuhkan radikalisme di kalangan mahasiswa.
Peneliti dari LPPM UNUSIA Naeni Amanulloh membagi kelompok Islam menjadi tiga, yakni salafi, tarbiyah dan hizbut tahrir. Kelompok hizbut tahrir itulah yang ia sebut cenderung bergerak secara eksklusif.