50 Stan Pamerkan Produk Pertanian

Kepala DPKP DIY Sasongko (tengah) saat melihat salah satu teknologi pertanian di HKP 2019, Senin (27/5). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
27 Mei 2019 22:12 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai produk pertanian ditampilkan dalam Hari Krida Pertanian (HKP) ke-49 yang digelar di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY.

Kepala DPKP DIY Sasongko mengatakan dalam peringatan HKP yang digelar sejak Senin-Rabu (27-29/5) tersebut, dinasnya menyiapkan 50 stan bazar untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat.

HKP, kata dia, menampilkan berbagai produk pertanian, baik yang sudah dipanen maupun produk olahan pertanian. Masyarakat bisa memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Seperti bawang putih, bawang putih, beras, dan kebutuhan lainnya. "Kami juga menyediakan kebutuhan pokok masyarakat. Harganya juga diharapkan bisa ditekan di bawah harga pasar," katanya di sela-sela acara.

Tak hanya itu, dinasnya juga memamerkan berbagai teknologi pertanian yang bisa digunakan oleh masyarakat. Misalnya ada ayam Jawa super yang telurnya cukup banyak. Ada juga teknologi yang mensinergikan antara lahan pertanian dengan perikanan.

Hak itu sesuai dengan tema HKP tahun ini, yakni Peningkatan dan Penguasaan Teknologi dan Inovasi Petani Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Pangan. "Kami juga menyediakan daging potong kebutuhan masyarakat yang bisa digunakan saat hari raya. Ada daging sapi yang sudah dipotong dari RTH, jadi lebih higienis. Kami juga menggelar bakti sosial berupa 80 paket sembako dengan 80 orang penerima dari warga yang tidak mampu," katanya.

Menurut Sasongko, tema HKP 2019 sangat tepat dan relevan dengan situasi pertanian saat ini dan tahun-tahun mendatang. Pemerintah dan swasta, kata Sasongko, harus berperan aktif membantu para petani dalam membuat kebijakan-kebijakan, pengadaan alat produksi, pelatihan dan pengadaan bibit yang unggul.

Di sektor pertanian, kata dia, masih banyak masalah dan kendala yang mesti diatasi. Seperti terbatasnya penguasaan alat mesin pertanian, pupuk bersubsidi dan belum lancarnya pendistribusian pupuk sampai ke petani. "Termasuk SDM-nya. Saat ini generasi muda susah tidak mau untuk bertani," katanya.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) DIY Sunari mengakui jika dari sekian banyak petani hanya sedikit yang berusia muda. Hal itu menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian. “Tantangannya adalah bagaimana agar anak-anak muda bersedia menjadi petani,” ucap dia.