UII Target Lahirkan 36 Guru Besar

Rektor UII, Fathul Wahid memberikan surat pengukuhan sebagai guru besar di bidang kimia, kepada Is Fatimah (kanan), didampingi Kepala LL Dikti Wilayah V DIY, Didi Achjarie (paling kiri), di ruang pertemuan lantai II, Gedung Prof.Sardjito, Kampus Terpadu UII, Rabu (29/5/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
30 Mei 2019 22:47 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesia (UII) menargetkan bisa melahirkan sebanyak 36 guru besar sebelum memasuki 2022. Saat ini, universitas tersebut telah memiliki total 19 guru besar, paska dikukuhkannya Is Fatimah sebagai guru besar bidang ilmu kimia, Rabu (29/5/2019).

Rektor UII Fathul Wahid mengakui target tersebut cukup ambisius tetapi jajarannya tetap optimistis dan berdoa agar dimudahkan Tuhan Yang maha Esa. Ia mengungkapkan menjadi guru besar berarti menambah kuasa akademik seseorang.

"Kuasa akademik mengandung tanggung jawab dan peran yang besar, demikian juga ada banyak harapan digantungkan," kata dia, Rabu.

Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh seorang guru besar. Pertama, public scholarship, sudah seharusnya seorang guru besar bisa berbicara di ruang publik, baik itu seminar, diskusi, forum ilmiah dan lain-lain. Kendati demikian, meski menyampaikan pemaparan keilmuan, mereka harus pula bisa menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak luas.

Kedua, partisipatory research atau harus bisa berkolaborasi dengan banyak pihak terkait keilmuan dan bidangnya. Baik itu bersama UMKM, masyarakat umum dan lainnya. Ketiga, community partnership atau bisa berkolaborasi dengan kelompok yang lebih luas.

"Dalam hal ini, demokratisasi ilmu diwujudkan, ilmu bukan hanya milik profesor semata. Bahkan, basis data yang mereka gunakan bisa dinikmati oleh banyak orang," ucapnya.

Selanjutnya, civic literacy scholarship yaitu membuat yang rumit menjadi indah, tulisan enak dibaca, bahasa populer yang bisa dipahami banyak kanal.

Ketua Umum Badan Wakaf UII Suwarsono Muhammad berharap segenap pihak mendukung pencapaian Is Fatimah dan para akademisi UII bisa menyusul menjadi guru besar.

Kepala Lembaga Layanan Dikti Wilayah V DIY Didi Achjarie mengatakan, menjadi seorang guru besar adalah sesuatu yang sangat bermanfaat dan bernilai bagi diri sendiri, institusi dan yayasan perguruan tinggi. Ia berharap, UII dapat meraih target raihan guru besar dan segenap pihak mendukung upaya pencapaian target tersebut.

"Ayo saling mendukung dan tidak saling jegal," ucapnya.

Dengan banyaknya profesor atau guru besar tentu akan membawa dampak baik bagi perguruan tinggi dan LL Dikti serta Kemenristek Dikti. Guru besar bisa membawa akeditasi perguruan tinggi menjadi lebih baik, karena salah satu syarat akreditasi adalah jumlah guru besar di kampus. Sedangkan secara keilmuan, kontribusi keilmuan guru besar sangat ditunggu masyarakat. Sehingga gelar guru besar bukan hanya dinikmati sendirian.

"Seorang guru besar bertanggung jawab memberikan temuan baru dan solusi bagi masyarakat. Sehingga ada kemanfaatan atas kehadiran mereka, di tengah masyarakat, tentunya sesuai bidang masing-masing," kata dia.