Selama Musim Kemarau, Produksi Air PDAM Ditambah

Kegiatan dropping air oleh BPBD Gunungkidul di Dusun Kayuareng, Pucanganom, Rongkop, Gunungkidul, Sabtu (7/7/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
02 Juni 2019 16:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Memasuki musim kemarau, PDAM Tirta Handayani meningkatkan kapasitas produksi air dengan optimalisasi mesin pompa di sejumlah sumber. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan air sampai ke pelanggan dengan baik.

Direktur Umum PDAM Tirta Handayani, Isnawan Fibriyanto, mengatakan saat kemarau kebutuhan air masyarakat meningkat. Oleh karena itu, PDAM berencana meningkatkan kapasitas produksi air di sejumlah sumber yang dimiliki seperti sumber di Wonosari, Seropan, Bribin dan Baron. Di waktu normal, keempat sumber dapat menghasilkan air 455 liter per detik. Namun di musim kemarau dioptimalkan dengan menambah kapasitas produksi menjadi 595 liter per detik.

Menurut dia, dari sisi potensi tidak masalah karena sumber yang dimiliki masih sangat melimpah. Salah satunya bisa dilihat dari kapasitas produksi di Baron yang mencapai ribuan liter per detik, tapi baru dimanfaatkan sebesar 100 liter per detik. “Tidak masalah dengan peningkatan kapasitas produksi karena sumbernya masih sangat besar,” kata Isnawan kepada wartawan, Minggu (2/6/2019).

Menurut dia, optimalisasi produksi dilakukan dengan perbaikan pompa serta menghidupkan pompa cadangan. Harapannya dengan menambah operasional mesin maka kapasitas produksi bisa bertambah sehingga kebutuhan air di masyarakat dapat tercukupi. Ia tidak menampik saat kemarau, kebutuhan air akan meningkat. Oleh karena itu, harus dilakukan antisipasi agar pasokan tetap stabil dan aliran ke pelanggan dapat berjalan dengan lancar. “Dari keempat sumber kami memprediksi bisa menambah produksi sebesar 140 liter per detik,” katanya.

Dia berharap pasokan listrik dari PLN dapat stabil sehingga operasional pompa tidak terganggu karena masalah daya yang turun atau pemadaman. “Kalau listrik PLN terganggu maka akan berdampak ke layanan, baik aliran air ke warga maupun potensi kerusakan mesin pompa karena daya naik turun,” katanya.

Bupati Gunungkidul, Badingah, mengatakan di musim kemarau masalah krisis air masih menjadi kendala masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah perbukitan. Meski demikian, ia mengklaim jumlah warga yang mengalami krisis air terus berkurang karena layanan air bersih sudah mencapai 83%.

Untuk layanan air bersih, Pemkab tak hanya mengandalkan pasokan dari PDAM. Pemkab mengoptimalkan peran Spamdes di setiap desa maupun dusun. Selain itu, untuk daerah yang berada di perbukitan Pemkab juga memasok kebutuhan air dengan cara dropping. “Kondisi geografis yang naik turun maka tidak semua wilayah dapat terjangkau jaringan perpipaan. Jadi, untuk memastikan kebutuhan air terpenuhi maka dilakukan dropping, khususnya pada saat musim kemarau,” katanya.