BKIPM Dorong Peningkatan Kesadaran Karantina dan Mutu Perikanan

Pembukaan Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan 2019 di Alun-Alun Kota Jogja, Minggu (25/6/2019). - Ist/BKIPM.
29 Juni 2019 13:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan serta keamanan hayati ikan.  Mengingat saat ini banyak jenis ikan invasif ditemukan dan dipelihara masyarakat, perdagangan ilegal komoditas perikanan yang dilindungi. Selain itu adanya pencemaran limbah plastik di perairan umum yang mulai mengganggu ekosistem dan kelangsungan hidup biota perikanan juga harus segera direspons seluruh komponen masyarakat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), kembali menyelenggarakan Bulan Bakti Karantina dan Mutu 2019 mulai 23 Juni hingga 23 Juli 2019 mendatang.

“Bulan bakti karantina dan mutu adalah bentuk public awareness BKIPM dalam rangka meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan fungsi perkarantinaan, pengendalian mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan,” ungkap Kepala BKIPM Rina dalam rilis yang diterima Harian Jogja Sabtu (29/6/2019).

Pembukaan Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan 2019 dilakukan di Alun-Alun Kota Jogja dengan dihadiri pejabat Pemda DIY dan masyarakat umum.

Rina menambahkan dengan pemahaman yang tepat, ragam potensi sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah. Caranya dengan mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku masyarakat, para pelaku usaha, dan pemerintah daerah, serta instansi terkait.

Ia berharap, semua pihak dapat berperan aktif dalam menjaga kesehatan ikan, mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keberlanjutan sumber daya ikan. “Jika semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam karantina dan penjagaan mutu, kami berharap maraknya temuan ikan invasif yang dipelihara masyarakat, peredaran dan penyelundupan ikan yang dilarang dan dibatasi perdagangannya, serta hasil perikanan di pasar  domestik yang belum terjamin mutu dan keamanannya dapat ditanggulangi dengan baik,” katanya.

Selain berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya karantina dan pengendalian mutu, kata dia, bulan bakti karantina dan mutu yang telah diselenggarakan sejak 2016 mampu meningkatkan jumlah usaha perikanan yang memenuhi standar dan taat hukum. Hal ini karena yang disasar bukan hanya masyarakat, tetapi juga pelaku usaha perikanan termasuk pengolah ikan.

Meningkatnya impor komoditas perikanan, baik yang hidup maupun ikan mati, lanjutnya, membuka peluang bagi masuknya penyakit ikan berbahaya, yang dapat mengganggu dan merugikan usaha budidaya di Indonesia. Selain itu beragamnya penggemar ikan terhadap jenis ikan yang cenderung invasif, membuka peluang bagi importir dan pelaku usaha untuk mendatangkan jenis yang dilarang.

“Penyelenggaraan bulan bakti karantina dan mutu hasil perikanan terbukti mampu  memberikan dampak positif bagi tumbuhnya kesadaran dan pemahaman masyarakat atas isu kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan serta keamanan hayati ikan,” ujarnya.