Sleman Kekurangan Tenaga Pemantau Kurban

Dua orang warga Dusun Ngetal, Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, mengikat kulit sapi kurban bantuan dari Presiden Joko Widodo di halaman Masjid Nurul Huda, Rabu (22/8/2018). - Harian Jogja/Dok
10 Juli 2019 22:12 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja,com, SLEMAN—Jumlah petugas pemantau penyembelihan hewan kurban di Sleman masih kurang. Sekitar 200 petugas pemantau bakal mengawasi secara langsung penyembelihan hewan kurban saat Iduladha, baik di masjid maupun tempat pemotongan hewan.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Harjanto menyatakan 200 orang akan mengawasi pemotongan hewan kurban di masjid dan tempat pemotongan hewan. Para petugas pemantau tersebut, diakui dia, terdiri dari 185 tenaga teknis dari DP3 Sleman, tenaga pusat kesehatan hewan (puskeswan), serta penyuluh dibantu oleh dokter hewan, serta dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Ia mengatakan jumlah itu terbilang masih kurang. Terlebih jika dibandingkan dengan total dusun di Sleman yang mengadakan penyembelihan hewan kurban yang mencapai ribuan titik.

"Karena jumlah tenaga kami yang terbatas, tidak bisa mengawasi langsung semua dusun. Apabila ada permasalahan, masyarakat bisa lapor ke petugas puskeswan atau ke Dinas [DP3 Sleman]," kata Harjanto, Rabu (10/7/2019).

Harjanto mengatakan upaya konsultasi dengan petugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan cara penyembelihan ternak. Masyarakat juga dapat bertanya seputar kesehatan sapi atau domba saat akan membeli hewan ternak. Jika ragu, warga bisa meminta surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari petugas. “Kami juga telah menyosialisasikan kepada masyarakat, khususnya kalangan takmir masjid, berkaitan pemotongan hewan kurban terkait dengan banyak hal termasuk penyakit hewan dan cara penyembelihan, serta penanganan kurban sampai dengan distribusi dagingnya," ujar Harjanto.

 

Antraks

Dia menegaskan meski kasus antraks yang beberapa bulan terakhir melanda salah satu kabupaten di DIY, namun di Sleman sejauh ini tidak ada laporan terkait penyakit tersebut. Kendati demikian dinasnya tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menyatakan hingga saat ini memang tidak ada kasus antraks pada manusia di wilayah Kabupaten Sleman. Untuk pencegahan dan penanganan, pihaknya memberlakukan kebijakan pengamatan pada penderita atau terduga penderita antraks di wilayah terpapar.

Kasus antraks di Sleman, kata dia, kali terakhir ditemukan pada 2003 lalu pada sapi yang mati di wilayah Kecamatan Pakem. "Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa sapi tersebut positif Antraks," kata dia.

Antraks, kata Joko, merupakan penyakit menular pada hewan peliharaan atau liar pemamah biak seperti sapi, domba, kerbau, kuda dan babi yang disebabkan oleh bakteri Bacillus antracis.

Oleh karena itu, Joko mengimbau agar melakukan pengobatan dengan antibiotik dosis tinggi sedini mungkin bila ada penderita dengan gejala mirip antraks di puskesmas atau rumah sakit.