Penyaluran Bantuan Air di Pegunungan Menoreh Terkendala Medan dan Bak Penampung

Sejumlah warga Dusun Bulu, Desa Girimulyo, Kecamatan Girimulyo saat menerima bantuan air bersih, di wilayah setempat, Selasa (18/9/2018). - Harian Jogja/Uli Febriarni
13 Juli 2019 16:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Pelbagai kendala dialami para anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulonprogo saat melakukan droping air. Mulai dari sulitnya medan, hingga ketiadaan bak penampungan air bersih atau biasa disebut toren milik warga pemohon bantuan.

Salah satu anggota Tagana Kulonprogo, Sutikno mengungkapkan sulitnya medan terutama di kawasan perbukitan, memaksa armada pengangkut air bersih tidak dapat menjangkau semua titik. Di tambah rumah warga di beberapa wilayah perbukitan tidak menjadi satu kompleks, melainkan terpisah dengan jarak hingga satu kilometer.

"Dengan kondisi ini, kami tidak bisa menjangkau semua lokasi yang membutuhkan, biasanya hanya terpusat di satu titik," ungkapnya, Jumat (12/7/2019).

Kendala lain yang pihaknya hadapi yakni tidak semua warga penerima bantuan memiliki bak penampungan air. Untuk mengakalinya, warga kata Sutikno mengandalkan terpal. Sayangnya, cara ini riskan, lantaran terpal rawan bocor.

"Masih banyak warga yang sebenarnya membutuhkan toren [bak penampungan air] untuk menerima bantuan air bersih bila musim kemarau seperti ini. Memang ada yang lantas pakai terpal, tapi cara itu tidak maksimal karena rawan bocor saat penyaluran air," ujarnya.

Sutikno menerangkan kegiatan droping air bersih yang sudah mereka jalankan sejak kemarau melanda Kulonprogo baru bersumber dari dana sosial perusahaan atau CSR. Untuk anggaran pemerintah belum turun, karena masih dilakukan pendataan lebih lanjut.

Untuk bantuan dari CSR yang bekerjasama dengan Tagana Kulonprogo, dilakukan oleh pihak swasta asal Sleman, bernama Istiqomah Group. Bantuan ini disasarkan kepada 392 kepala keluarga dan tiga masjid di enam desa di Kecamatan Girimulyo. Adapun total bantuan air bersih yang diberikan berjumlah 30 tangki.

Kecamat Girimulyo dipilih menjadi lokasi bantuan droping air bersih lantaran sejak kemarau melanda terjadi krisis air di wilayah tersebut. Salah satunya dirasakan warga di Dusun Ngaglik, Desa Purwosari, Kecamatan Samigaluh.

Ponimin, warga setempat mengungkapkan sulitnya memperoleh air bersih ini mulai dirasakan semenjak hujan tidak mengguyur wilayah itu sejak tiga bulan terakhir. Dampaknya, debit mata air di dusun yang dihuni sekitar 90 kepala keluarga itu mulai menyusut.

"Kalau mau ambil [sumber mata air], harus antri dulu, itupun kadang kering dan harus menunggu beberapa jam sampai airnya keluar lagi," ujarnya.

Sebagian besar warga di dusun tersebut, kata Ponimin juga tidak memiliki toren. Sehingga ketika bantuan datang, air hanya ditampung di dalam ember. Warga biasanya membawa dua sampai empat ember ke pusat bantuan droping air. "Ada beberapa yang punya toren, tapi biasanya yang jauh dari sumber, kalau yang dekat tetap andalkan sumber air, tapi jika pas kaya gini [kekeringan] memang jadi sulit," ucapnya.