Pendidik Dituntut Kembangkan Profesionalisme

Wakil Rektor I, Universitas Sanata Dharma, Rohandi memukul gong, membuka secara resmi The 7th South East Asia Design Research International Conference (SEA-DR) 2019, Kamis (25/7/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
26 Juli 2019 12:07 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pelaku pendidikan dituntut untuk terus mengembangkan profesionalismenya agar secara proaktif dapat membangun sistem pendidikan yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

Penanggungjawab SEA-DR 2019, Yosep Dwi Kristanto mengatakan, upaya itu harus dilakukan, karena globalisasi dan revolusi industri 4.0 telah memberikan peluang bagi kemajuan pendidikan. Sekaligus memberikan tantangan bagi para pelaku pendidikan, untuk terus berinovasi dalam menyediakan lingkungan belajar yang optimal bagi peserta didik.

"Para pelaku pendidikan seyogyanya menggunakan pemikiran reflektif yang dimiliki, untuk mentransformasi tantangan dan peluang yang dihadapi pendidikan saat ini," kata dia, di sela The 7th South East Asia Design Research International Conference (SEA-DR) 2019, Kamis (25/7/2019).

Untuk dapat mewujudkan gagasan itu, maka SEA-DR bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan konferensi internasional yang mengambil tema Improving Professionalism and Reflective Thinking through Design Research, di ruang seminar Driyarkara USD, Kamis-Sabtu (25-27/7/2019).

Konferensi yang menghadirkan 221 abstrak itu, bertujuan menyediakan forum komunikasi ilmiah bagi peneliti, praktisi, pendidik dan pembuat keputusan untuk berbagi temuan-temuan penelitian dan praktik-praktik baik di bidang penelitian desain.

Hadir lima pembicara utama yang berasal dari lima negara berbeda. Konferensi ini juga bekerjasama dengan delapan jurnal ilmiah nasional dan internasional bereputasi.

Salah satu pembicara utama, Prof.Toh Tin Lam memaparkan perihal teknik mempelajari Matematika, dengan menggunakan komik sebagai bahan ajar.

Sebagai pembuka, ia mengungkapkan bahwa kendati Singapura dikenal sebagai negara yang memiliki prestasi bagus dalam ajang TIMSS dan PISA, tak semua anak memiliki performa baik di Matematika dan Sains.

"Kami menyebut grup mereka dengan istilah pembelajar dengan progres lamban. Kami menggunakan beberapa pendekatan dalam mendidik mereka," ujarnya.

Toh Tin Lam menyebutkan, penggunaan komik sebagai bahan media ajar tak bisa berdiri sendiri. Beberapa pendekatan yang dipakai mengacu pada manajemen kelas, psikologi pendidikan, pedagogi umum, pedagogi Matematika.

Selain itu, pengajar juga menerapkan teori komunikasi massa dalam konsep mengajar mereka. Karena pada dasarnya, mengajar di kelas adalah proses komunikasi, strategi menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan, imbuh dia.

Komik yang digunakan dalam metode pembelajaran Matematika juga dimasukan unsur humor ke dalamnya. Karena ia menilai, memasukan humor dalam cerita atau gambar komik, membantu informasi atau pesan cepat diterima oleh anak.

"Humor itu punya kekuatan. Komik memberikan kesempatan bagi anak untuk mendapatkan peluang berimajinasi lebih luas. Selain itu, mereka mendapat ruang berdiskusi," tutur lelaki yang berkedudukan sebagai Deputy Head of Mathematics and Mathematics Academic Group, Singapore National Institute of Education itu.

Setelah menerapkan komik sebagai media ajar Matematika bagi anak yang disebut 'pembelajar dengan progres lamban tadi', dari kajian Toh diketahui bahwa anak-anak tadi termotivasi belajar Matematika dan nilai mereka dalam tes menjadi lebih baik.

Hanya saja, ia menegaskan, isi materi komik Matematika harus tetap berisikan hal-hal yang ada dan relevan ada di dunia nyata, keseharian.