Panen Raya, Petani Desa Tawangsari Hasilkan Gabah 8,16 Ton per Hektare

Prosesi wiwitan dalam panen raya padi di Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Kamis (25/7/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
26 Juli 2019 12:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Para petani di Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih tengah berbahagia. Sebab, lahan persawahan padi milik mereka kini sudah masuk masa panen kedua. Sebagai wujud syukur, mereka mengadakan tradisi wiwit panen di areal persawahan desa setempat Kamis (25/7/2019).

Dalam kegiatan ini diikuti oleh sejumlah masyarakat, petani Desa Tawangsari yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Manunggal Roso, pemerintah desa, muspika Kecamatan Pengasih hingga Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

Adapun upacara dimulai dengan kirab sederhana di pematang sawah. Rombongan kirab berjalan ke rerimbunan padi kemudian secara simbolis memetik beberapa jumput sebagai tanda panen telah dimulai.

Kepala Desa Tawangsari, Sigit Susetya, mengatakan wiwitan ini rutin dilakukan tiap menjelang panen. Akan tetapi, untuk kegiatan kali ini cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bukan soal teknis acara, melainkan membedakan acara saat ini dengan tahun hasil panenan yang diperoleh petani.

Dia mengatakan tahun ini lahan varietas padi Melati Menoreh yang mereka tanam berhasil panen raya. Satu hektarenya menghasilkan 8,16 ton. Sementara total luas lahan yang ditanami padi jenis ini di Desa Tawangsari mencapai 80 hektare.

"Kegiatan ini sebagai tanda syukur petani, bahwa dalam menanam padi kami dapat hasil baik. Kita ubinan 8,16 ton gabah kering giling per hektare, jumlah ini melebihi rata-rata hasil panen kabupaten yang tahun lalu 6,5 ton per hektare," kata Sigit, di sela-sela kegiatan wiwit panen, Kamis (25/7/2019) sore.

Sigit mengatakan setelah padi dipanen, gabah keringnya tidak dijual kepada tengkulak. Melainkan diproses secara mandiri oleh para petani setempat jadi berbentuk beras. Produksi beras para petani ini bahkan kata Sigit sudah sampai luar Kulonprogo.

"Berasnya kami jual sampai ke Jakarta, ke depan kami ingin mensuplai ke e-Warong untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan seluruh PNS di Kulonprogo," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Aris Nugroho mengatakan secara umum hasil panenan padi di Kulonprogo dalam masa panen kedua ini di luar perkiraan. Biasanya masa ini hasilnya cenderung menurun, tapi faktanya malah meningkat. "Ini cukup menggembirakan karena biasanya saat MT2 itu menurun dibandingkan MT1, tapi ini malah sebaliknya" kata dia.

Dia mengatakan di beberapa wilayah yang sudah panen seperti Wates, Pengasih dan Sentolo, rata-rata hasil panenan saat ini bahkan mencapai 10 ton per hektar. Adapun masa panen terkahir nanti akan ditutup oleh Kecamatan Temon.

Aris meyakini panenan melimpah ini tak akan mempengaruhi penurunan harga beras di pasaran. Sebab, menurutnya petani Kulonprogo sekarang sudah tergolong mandiri. Dia mencontohkan petani Desa Tawangsari yang mampu mengolah gabah menjadi berbentuk beras. Dengan cara ini keuntungan yang diperoleh petani bisa lebih besar.

"Di Tawangsari memang telah dibuat pola agribisnis padi mulai hulu sampai hilir, pupuknya organik dari kotoran sapi milik petani. Dari sisi pengolahan tanah sudah menggunakan mekanisasi traktor roda empat dan tanamnya pake transplanter. Setelah panen, mereka mengolah sendiri jadi beras kelas premium," ujarnya.