Ini Sejumlah Penyakit yang Kerap Muncul di Hewan Kurban

Petugas pemantau kesehatan hewan kurban Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja melakukan pemeriksaan kesehatan kambing di Jalan Pramuka, Jumat (9/8/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
31 Juli 2019 22:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Menjelang hari raya Iduladha, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menggelar pemantauan hewan kurban di sejumlah tempat, salah satunya di pusat penjualan hewan kurban di Jalan Pramuka, Kotagede, Rabu (31/7/2019). Pemantauan ini untuk memastikan hewan yang akan dikurbankan pada Minggu (11/8/2019) kelak benar-benar layak konsumsi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Sugeng Darmanto, mengatakan kelayakan meliputi sejumlah aspek, yakni kondisi hewan, kondisi tempat atau kandang, pemberian makan dan persyaratan lainnya. Setelah pemeriksaan dan dinyatakan layak, maka hewan akan dikalungi dengan tanda bahwa hewan tersebut layak untuk menjadi kurban.

Berdasarkan pemantauan ini, tempat penjualan hewan kurban di jalan Pramuka dari segi tempat telah memenuhi persyaratan. “Sudah menggunakan pola yang benar, ada atapnya, lalu tempat pemberian makan dan papan untuk pijakan sudah terpisah. Area untuk pergerakan juga sudah mencukupi,” katanya.

Lalu untuk sapi ia menilai juga sudah cukup layak, terlihat dari ruangan yang longgar, makan dan minum cukup serta tidak ada gerakan-gerakan frontal yang menunjukkan hewan sudah merasa nyaman. “Karena hewan juga butuh kenyamanan biar tidak stres,” kata dia.

Dalam pantauan ini ia mengajak tim yang terdiri dari dokter hewan. Dari segi kesehatan hewan, timnya menemukan ada hewan yang bermasalah yakni radang selaput mata. Ia menuturkan bisa disebabkan kecapekan, cacing atau sebab lain.

“hal ini menjadi perhatian kami, apakah treatmentnya bisa dipenuhi saat ini atau harus dikembalikan. Kalau hanya perlu vitamin nanti ada karantina, setelah sehat bisa dibeli masyarakat. Namun kalau ternyata masa pemulihannya panjang maka pedagang akan mengembalikan,” ujarnya.

Ia akan memantau hewan kurban di sekitar 64 titik di Kota jogja dan menyiapkan label sebanyak 3.000 untuk sapi dan 7.000 untuk kambing. “Kambing kebanyakan berasal dari Temanggung dan kondisinya bagus, karena di sana mungkin iklimnya sejuk jadi cocok untuk beternak,” kata dia.

Kasi Bimbingan Usaha Budidaya kehewanan dan Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Dokter hewan Dewi Lina Sari, mengatakan setiap pedagang ditanyai dari mana asal hewannya, khususnya sapi. Sebab sapi berpotensi menularkan penyakit antraks.

Jika tiba-tiba timbul penyakit selama masa menjelang hari raya kurban, pihaknya siap on call dan akan mendatangi lokasi untuk penanganan penyakit. “Biasanya tergantung kondisi lingkungan, panas yang terlalu tinggi, dingin yang amat sangat, biasanya perubahan tempat akan mengalami radang di kelopak mata,” katanya.

Penyakit itu menyebabkan leleran darah dan peradangan. Jika terjadi hal demikian ia akan memberikan salep mata atau injeksi antibiotik. Ia menghindari injeksi intramuscular dan obat cacing karena itu tidak bagus untuk daging yang akan dikonsumsi.