Haryadi Ingin Ada Uji Kelaikan Andong, Paguyuban Kusir: Sudah Ada

Andong yang parkir di cerukan Jalan Malioboro, Senin (18/5/2018). Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
07 Agustus 2019 02:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja,com, JOGJA-Video yang merekam terjatuhnya seekor kuda penarik andong di sekitar Alun-Alun Utara beberapa waktu lalu memicu kecaman masyarakat karena diduga kuda penarik andong membawa beban terlampau berat. Mengingat andong telah menjadi ikon wisata Kota Jogja, standar keamanan sudah semestinya diprioritaskan oleh pengelola.

Menanggapi insiden ini, Walikota Jogja, Haryadi Suyuti, mengimbau para pengemudi andong di Kawasan Malioboro agar lebih memperhatikan kapasitas beban andong. “Jangan sampai andong menanggung beban yang sangat berat. Di Malioboro, andong bukan saja alat transportasi, melainkan juga wisatawan,” tuturnya, Senin (5/8/2019) lalu.

Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja tidak membatasi kapasitas maksimal andong, menurutnya setiap kusir semestinya bisa memperkirakan berapa beban yang bisa diangkut. Di sisi lain wisatawan juga perlu memahami jika andong memiliki batas beban, sehingga tidak memaksakan satu andong dinaiki banyak orang.

Pasca insiden ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan UPT dan dinas terkait soal bagaimana semestinya operasional andong di Malioboro. “Nanti akan dilakukan pemeriksaan periodik. Bukan hanya kudanya, tapi juga ban, gerobak dan sebagainya,”katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY, Purwanto, membantah jika penyebab terjatuhnya kuda adalah beban yang melebihi kapasitas. Menurutnya, insiden ini disebabkan oleh kondisi jalan yang licin, sehingga pijakan kuda goyah dan tergelincir.

“Di area utara Alun-Alun Utara itu jalannya agak menurun. Posisi siang panas banget, aspalnya jadi mateng. Akibatnya pada sore dan malam jalannya licin, terus terpeleset. Jadi bukan karena kelebihan kapasitas,” katanya, Selasa (6/8/2019).

Ia mengungkapkan, waktu kejadian, andong yang kudanya terjatuh itu hanya mengangkut empat orang dengan satu anak kecil. Meski kuda terjatuh, andong, kusir dan penumpang tidak sampai ikut tersungkur. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Ia mengungkapkan, kapasitas andong sebenarnya mampu menampung hingga delapan orang. namun untuk kenyamanan, biasanya ia membatasi pada empat penumpang. Menurutnya, banyaknya kejadian kuda penarik andong terjatuh selama ini selalu disebabkan kondisi jalan licin. “Seperti dulu banyak yang jatuh di Nol Km, itu uga karena licin,” ujarnya.

Ia mengakui tekstur aspal memang sebenarnya tidak cocok untuk kaki kuda. Sebab itu setiap kuda penarik andong selalu dipasangi paku pada sepatu besinya, agar pijakannya tidak licin. Selain itu, para kusir jika menemui jalan menurun akan memperlambat laju kudanya.

Sebagai penerapan standar keamanan, pihaknya bersama Dishub DIY telah menyeleksi andong yang layak masuk Kota Jogja. Belum lama ini ia juga bekerjasama dengan Fakultas kedokteran UGM juga telah dilakukan pemeriksaan kesehatan kuda.

Andong yang tersebar di Malioboro, kata dia, telah diseleksi kelayakannya, dari kusir, kuda, kelengkapan andong dan sebagainya. Para kusir itu telah mengantongi Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB), Surat Ijin Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (SINKTB), dan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang menandakan mereka layak beroperasi.

Saat ini di DIY terdapat 565 andong yang tersebar di Sleman, Kota Jogja dan Bantul. Namun berdasarkan seleksi, andong yang bisa beroperasi di Kota Jogja hanya 463 andong. “Kulonprogo sama Gunungkidul tidak ada,” kata dia.

Jumlah itu kata dia saat ini sudah maksimal, dan tidak bisa ditambah lagi. Kecuali ada kebutuhan khusus dan di Malioboro telah menyediakan tambahan tempat, baru bisa ada penambahan. “Kami sudah batasi, kalau mau tambah anggota bisa, tapi kalau tambah andong ga bisa,” katanya.