Dalam 4 Bulan, 64 Kasus Kebakaran Terjadi di Sleman

Ilustrasi. - Reuters
09 Agustus 2019 05:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Unit Pelaksana Tugas (UPT) Bidang Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman menyatakan selama musim kemarau ini terhitung sejak kurun waktu April hingga Kamis (8/8/2019) ini total kasus kebakaran sebanyak 64 insiden kebakaran.

Kepala Seksi Operasional dan Investigasi Kebakaran Bidang Pemadam Kebakaran satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman Suwandi, mengatakan jika total kasus kebakaran tahun 2019 terhitung sampai hari ini sebanyak 64 kasus.

"Sedangkan, kasus kebakaran 2018 sebanyak 142 kejadian kebakaran," kata Suwandi, Kamis (8/8/2019).

Suwandi mengatakan, penyebab kejadian kebakaran pada musim kemarau didominasi oleh faktor hubungan arus pendek listrik, kompor meledak dan kelalaian warga untuk mematikan lilin. "Ada juga faktor dari puntung rokok yang dibuang sembarangan," tuturnya.

Pada musim kemarau, lanjut Suwandi, dahsyatnya si jago merah kebanyakan melanda rumah dan lahan pekarangan. "Seperti tumpukan sampah dan lahan tanaman tebu," ujarnya.

Terkait dengan prosedur, Suwandi mengatakan jika sesuai standard operating procedure (SOP) yang dimiliki damkar dalam penanganan kebakaran adalah setelah menerima informasi kebakaran baik via telepon, radio komunikasi, dan handy talky (HT). Kemudian pelapor menyebutkan identitas penelepon baik itu nomor telepon, lokasi kejadian, dan obyek kebakaran.

"Hal di atas kita tanyakan ke pelapor atau penelepon guna menghindari penipuan. Karena sering terjadi pelapor yang identitasnya tidak jelas Damkar sudah ke lokasi ternyata tidak ada kebakaran," paparnya.

Kemudian, lanjut Suwandi, petugas damkar langsung meluncur ke lokasi kejadian kebakaran sesuai dengan informasi yang diterima untuk melakukan pemadaman.

Ketika disinggung mengenai jumlah korban jiwa, Suwan menjelaskan jika tidak ada korban jiwa dalam kejadian kasus kebakaran di musim kemarau ini. "Baik di tahun 2018 maupun di tahun 2019," imbuhnya.

Suwandi menjelaskan, personel yang dimiliki damkar sendiri berjumlah 49 orang. "Petugas administrasi sebanyak 8 orang, sedangkan operasional sebanyak 42 orang yang dibagi dalam empat regu," jelasnya.

Imbauan kepada masyarakat tak henti-hentinya dilakukan oleh Damkar Kabupaten Sleman dengan dengan terus dilakukannya sosialisasi melalui penyuluhan dan sosialisasi via medsos dan website Damkar. "Wilayah yang paling banyak terjadi kasus kebakaran adalah di wilayah Mlati Sleman dan Depok," terangnya.

Suwandi mengatakan, masyarakat diharapkan untuk lebih hati hati dalam menghadapi musim kemarau ini salah satunya adalah dengan tidak membakar sampah sembarang dengan harapan insiden kebakaran dapat ditekan sekecil mungkin.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman Sutriyanta mengatakan jika ia dan jawatannya sudah melakukan sejumlah pelatihan kepada anggota linmas, masyarakat, dan juga melakukan pengawasan di tempat-tempat tertentu seperti toko, pabrik, hotel dan lainnya berkaitan dengan proteksi kebakaran.

"Kendala utama adalah kesadaran masyarakat untuk antisipasi kebakaran, pencegahan kebakaran baik penggunaan listrik, maupun material yang lain pembakaran sampah lahan, limbah pabrik dan lainnya.

Sutriyanta juga mengeluhkan soal jumlah personel dan sarpras yang dimiliki oleh Damkar Kabupaten Sleman yang menurutnya belum cukup maksimal dalam upaya untuk upaya pemadaman kebakaran. "Sarpras damkar, pos damkar yang baru ada 2 di kabupaten Sleman juga menjadi kendala tersendiri," tutupnya.