Ini Penjelasan BMKG Tentang Prediksi Mundurnya Musim Hujan di DIY

Hujan di Tempel, Sleman. - Harian Jogja/Nina Atmasari
22 Agustus 2019 01:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--BMKG Staklim Mlati Yogyakarta menyatakan puncak musim hujan di wilayah DIY akan terjadi di bulan Januari-Februari 2020. Awal musim hujan 2019-2020 juga diperkirakan lebih lambat 1-2 dasarian (10-20 hari).

Sebab mundurnya awal musim hujan di Indonesia merupakan imbas dari pengaruh suhu muka air laut di wilayah Samudera Hindia sebelah barat Sumatera. Kondisi ini ditambah dengan faktor perairan Indonesia di bagian selatan ekuator lebih dingin dari suhu normal.

Kepala BMKG Staklim Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan pada Agustus 2019 El Nino sudah meluruh menjadi netral, prediksi hingga akhir 2019 diprakirakan pada status netral, IOD (Indian Ocean Dipole) cenderung netral, anomali suhu muka air Iaut Indonesia bagian selatan lebih dingin dari normalnya dan peralihan angin timuran menjadi angin baratan diprediksi akan terlambat, sehingga musim hujan diprediksikan akan mengalami keterlambatan.

"Awal musim hujan 2019-2020 juga diprakirakan lebih lambat 1-2 dasarian [10 sampai dengan 20 hari]," kata Reni saat ekspos prakiraan awal musim hujan di wilayah DIY tahun 2019/2020 di Stasiun Klimatologi Mlati, Jl. kabupaten Km. 5,5 Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Rabu (21/8/2019).

Sedangkan, BMKG Staklim Mlati Yogyakarta memprediksikan puncak musim hujan 2019/2020 wilayah DIY diprakirakan pada Januari Februari 2020.

"Adanya El Nino lemah itu berdampak kepada berkurangnya intensitas air hujan, tak terkecuali di wilayah DIY ini, misalnya pada bulan Oktober yang seharusnya intensitas hujannya 150 milimeter per bulan yang menandakan itu sudah memasuki awal musim hujan tetapi dengan berkurangnya intensitas air hujan otomatis 150 milimeter itu tidak tercapai, sehingga belum bisa kita katakan memasuki awal musim hujan, dengan demikian musim hujannya akan mundur, curah hujan yang tinggi biasanya akan datang di dasarian selanjutnya," paparnya.

El Nino yang lemah juga mempengaruhi pembentukan awan awan hujan di wilayah DIY karena suhu permukaan laut di Indonesia khususnya di sekitar wilayah DIY masih dingin, artinya pembentukan awan awan hujan menjadi sulit terjadi. "Harus menunggu menjadi hangat terlebih dahulu permukaan laut baru terbentuknya awan awan hujan bisa signifikan," ujarnya.

Umumnya, wilayah DIY pada saat awal musim hujan lebih lambat dibandingkan rata-ratanya dua dasarian kecuali di daerah Sleman (Tempel, Pakem, Sleman, Seyegan, Mlati, Godean, Minggir dan Moyudan) dan untuk wilayah Kulonprogo meliputi Kalibawang, Samigaluh, Nanggulan, Girimulyo) yang lebih lambat satu dasarian.

Dalam menandai awal masuk musim hujan di suatu wilayah, lanjut Reni, BMKG menandainya dengan apabila curah hujannya sudah menyentuh 150 milimeter dalam tiga dasarian berturut-turut atau dalam satu bulan. "Misalnya, di akhir Oktober itu sudah 150 milimeter kemudian di awal November dan pertengahan juga sudah terjadi hujan sebanyak 150 meter itu sudah bisa dikatakan awal musim hujan," jelasnya.

Dikatakan Reni, BMKG mengukur kinerja curah hujan dengan bekerjasama dengan pengamat pos hujan kerjasama yang ada di beberapa wilayah. "Mereka secara rutin mengirimkan informasinya ke kami mengenai intensitas curah hujan per sepuluh hari, sehingga kita bisa memonitoring intensitas di setiap wilayah mana yang belum hujan dan intensitasnya berapa dan di daerah mana yang belum hujan," ungkapnya.

Terkait dengan mundurnya awal musim hujan, BMKG juga sudah melakukan koordinasi dengan dinas terkait seperti PU, Pertanian dan BPBD Kabupaten maupun provinsi. Instansi tersebut biasanya mengundang BMKG mengenai informasi terkait dengan musim dan iklim.

"Kita akhirnya mengirimkan personel ke sana agar mereka juga bisa menginformasikannya kepada petani, jajaran terkait, dan masyarakat," imbuhnya.

Oleh karena itu, berkenaan dengan kondisi diatas maka untuk wilayah Daerah lstimewa Yogyakarta diprakirakan awal musim hujan 2019/2020 umumnya diprakirakan pada November 2019 kecuali wilayah Kabupaten Sleman bagian barat, Kabupaten Kulonprogo bagian utara Oktober 2019 dasarian Ill atau sepuluh hari terakhir di bulan Oktober 2019.

Masyarakat, lanjut Reni, perlu mewaspadai dampak negatif musim hujan antara Iain peningkatan potensi banjir dan longsor, penurunan produksi kopi, tembakau dan garam, serta tanaman buah tropika, penurunan rendemen tebu dan tinggi gelombang yang mengganggu kegiatan nelayan.

"Sementara itu, dampak positif musim hujan antara Iain meningkatnya potensi luas tanam sawah, meningkatkan frekuensi tanam. ketersediaan air untuk penanian dan waduk," tutupnya.