Harga Biodiesel dan Bioetanol Naik September 2026
ESDM menetapkan HIP biodiesel Rp15.025 dan bioetanol Rp11.814 per liter pada September 2026, keduanya naik dari bulan sebelumnya.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem Gunungkidul memicu 46 bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor yang tersebar di sejumlah kapanewon. BPBD Gunungkidul mencatat ratusan warga terdampak, meski tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.
Data BPBD Gunungkidul menunjukkan sembilan kejadian banjir dan 37 tanah longsor terjadi dalam periode cuaca ekstrem tersebut, menyebabkan 165 jiwa terdampak dan 113 jiwa harus mengungsi sementara demi keselamatan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menjelaskan intensitas hujan yang tinggi menjadi faktor dominan pemicu bencana hidrometeorologi di wilayah ini.
“Kami mencatat total 46 kejadian, didominasi tanah longsor. Alhamdulillah tidak ada korban meninggal dunia,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Sebaran bencana hidrometeorologi di Gunungkidul paling banyak terjadi di Kapanewon Ngawen dengan 26 kejadian longsor. Gedangsari menyusul dengan total 10 kejadian yang terdiri atas sembilan banjir dan satu longsor. Sementara itu, Nglipar mencatat enam longsor dan Semin empat longsor.
Rincian lainnya, Beji mengalami dua longsor, Jurangjero satu longsor, Kampung satu longsor, serta Tancep 22 longsor. Di wilayah Natah terjadi empat longsor, sedangkan Pengkol dan Pilangrejo masing-masing satu longsor.
Menurut Edy, tim reaksi cepat (TRC) bersama unsur terkait langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan memastikan kondisi warga tetap aman. Langkah ini sekaligus untuk mencegah dampak lanjutan dari cuaca ekstrem Gunungkidul.
“Personel kami dikerahkan untuk percepatan penanganan, termasuk membantu kerja bakti warga membersihkan material longsor dan genangan,” katanya.
Selain penanganan darurat, BPBD Gunungkidul juga menyalurkan bantuan logistik berupa permakanan dan peralatan guna mendukung proses pemulihan di lapangan.
Dampak bencana hidrometeorologi tersebut turut mengenai infrastruktur dan bangunan warga. Tercatat 24 rumah terdampak, satu ruas jalan mengalami gangguan akses, serta 21 talud dilaporkan mengalami kerusakan.
Atas keseluruhan peristiwa tersebut, total kerugian ditaksir mencapai Rp23 juta. Kendati demikian, Edy memastikan situasi secara umum sudah terkendali meskipun potensi cuaca ekstrem Gunungkidul masih perlu diantisipasi.
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Warga diminta tidak berteduh di bawah pohon besar, menjauhi tiang listrik dan papan reklame, serta mewaspadai kawasan rawan longsor maupun aliran sungai.
“Informasi peringatan dini cuaca harus menjadi perhatian bersama. Kami juga menyarankan pemangkasan pohon lapuk atau cabang yang berpotensi membahayakan saat angin kencang,” katanya, seraya menegaskan kesiapsiagaan warga menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi lanjutan bencana hidrometeorologi di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
ESDM menetapkan HIP biodiesel Rp15.025 dan bioetanol Rp11.814 per liter pada September 2026, keduanya naik dari bulan sebelumnya.
UGM menyiapkan penonaktifan sementara 10 mahasiswa terduga pelaku KBGO di Fakultas Teknik selama 1,5 bulan.
Kopdes Merah Putih akan beroperasi setiap hari, tetapi tidak 24 jam. Agrinas menyiapkan sistem shift untuk mendukung operasional koperasi.
Studi Canva menemukan 98% profesional Indonesia menggunakan AI untuk presentasi, dari mencari ide hingga latihan sebelum tampil.
MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi soal informasi kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman.
DPRD Kulonprogo menyoroti rotasi jabatan di Pemkab dan meminta pejabat baru membuktikan kinerja serta meningkatkan pelayanan masyarakat.