Advertisement
Cuaca Ekstrem Picu 46 Bencana di Gunungkidul
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem Gunungkidul memicu 46 bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor yang tersebar di sejumlah kapanewon. BPBD Gunungkidul mencatat ratusan warga terdampak, meski tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.
Data BPBD Gunungkidul menunjukkan sembilan kejadian banjir dan 37 tanah longsor terjadi dalam periode cuaca ekstrem tersebut, menyebabkan 165 jiwa terdampak dan 113 jiwa harus mengungsi sementara demi keselamatan.
Advertisement
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menjelaskan intensitas hujan yang tinggi menjadi faktor dominan pemicu bencana hidrometeorologi di wilayah ini.
“Kami mencatat total 46 kejadian, didominasi tanah longsor. Alhamdulillah tidak ada korban meninggal dunia,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
BACA JUGA
Sebaran bencana hidrometeorologi di Gunungkidul paling banyak terjadi di Kapanewon Ngawen dengan 26 kejadian longsor. Gedangsari menyusul dengan total 10 kejadian yang terdiri atas sembilan banjir dan satu longsor. Sementara itu, Nglipar mencatat enam longsor dan Semin empat longsor.
Rincian lainnya, Beji mengalami dua longsor, Jurangjero satu longsor, Kampung satu longsor, serta Tancep 22 longsor. Di wilayah Natah terjadi empat longsor, sedangkan Pengkol dan Pilangrejo masing-masing satu longsor.
Menurut Edy, tim reaksi cepat (TRC) bersama unsur terkait langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan memastikan kondisi warga tetap aman. Langkah ini sekaligus untuk mencegah dampak lanjutan dari cuaca ekstrem Gunungkidul.
“Personel kami dikerahkan untuk percepatan penanganan, termasuk membantu kerja bakti warga membersihkan material longsor dan genangan,” katanya.
Selain penanganan darurat, BPBD Gunungkidul juga menyalurkan bantuan logistik berupa permakanan dan peralatan guna mendukung proses pemulihan di lapangan.
Dampak bencana hidrometeorologi tersebut turut mengenai infrastruktur dan bangunan warga. Tercatat 24 rumah terdampak, satu ruas jalan mengalami gangguan akses, serta 21 talud dilaporkan mengalami kerusakan.
Atas keseluruhan peristiwa tersebut, total kerugian ditaksir mencapai Rp23 juta. Kendati demikian, Edy memastikan situasi secara umum sudah terkendali meskipun potensi cuaca ekstrem Gunungkidul masih perlu diantisipasi.
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Warga diminta tidak berteduh di bawah pohon besar, menjauhi tiang listrik dan papan reklame, serta mewaspadai kawasan rawan longsor maupun aliran sungai.
“Informasi peringatan dini cuaca harus menjadi perhatian bersama. Kami juga menyarankan pemangkasan pohon lapuk atau cabang yang berpotensi membahayakan saat angin kencang,” katanya, seraya menegaskan kesiapsiagaan warga menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi lanjutan bencana hidrometeorologi di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Banpres UMKM Sumatra Disiapkan, 200.000 Pelaku Usaha Disasar
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Jogokariyan Mulai Tarawih Lebih Awal
- Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 18 Februari 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal KRL Solo-Jogja Awal Ramadan 18 Februari 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal Imsakiyah DIY 18 Februari 2026 Versi Muhammadiyah, Imsak 04.23
- Jadwal Salat Jogja 18 Februari 2026, dari Subuh hingga Isya
Advertisement
Advertisement






