UJI Coba Malioboro: Tanpa Perlintasan, Sejumlah Akses Ditutup

Warga berekspresi dan berfoto saat Uji Coba Semi Pedestrian Jalan Malioboro di Jalan Malioboro, Jogja, Selasa (18/6). - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi
27 Agustus 2019 07:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Uji coba kawasan jalur pedestrian di Malioboro pada Selasa Wage (27/8/2019) hari ini, dilakukan dengan menutup sejumlah akses jalan ke jalan Malioboro. Atraksi kesenian dan kebudayaan yang tampil di kawasan Malioboro diharapkan tidak memakan badan trotoar.

Pada uji coba tahap ketiga ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja menerapkan rekayasa lalu lintas berbeda dibandingkan dua kali uji coba sebelum. Dalam rekayasa lalu lintas ini, tiga sirip jalan Malioboro meliputi jalan Sosrowijayan, Jalan Dagen, dan jalan Perwakilan ditutup. Penutupan akses jalan ini dikecualikan bagi untuk warga yang tinggal dan tamu hotel di Malioboro.

Kepala Dishub Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan tidak ada lagi perlintasan kendaraan bermotor untuk mengakses jalan Malioboro. Baik dari jalan Sosrowijayan, jalan Dagen maupun Jalan Perwakilan menuju ke Jalan Malioboro. Sebagai gantinya, ketiga jalan sirip tersebut diberlakukan dua arah. "Khusus untuk jalan Suryatmajan dua arah hanya sampai depan Kantor Gubernur DIY. Setelah itu jalan dibuat satu arah ke Barat jalan Pajeksan," katanya kepada Harianjogja.com, Senin (26/8/2019).

Kebijakan tersebut, lanjut Agus, dikarenakan Dishub mencoba tidak ada perlintasan kendaraan bermotor yang melintasi Malioboro. Pihaknya terus melakukan perbaikan manajemen lalu lintas selama uji coba Malioboro sebagai kawasan pedestarian. Penutupan jalan dimulai pukul 09.00 dan berakhir hingga pukul 21.00 WIB. "Setelah kegiatan reresik Selasa Wage, tim gabungan yang bertugas dalam manajemen lalu lintas akan menutup akses Jalan Malioboro," katanya.

Terkait perubahan akses jalan menuju Malioboro, Sekretaris Paguyuban Pengusaha Malioboro-Ahmad Yani (PPMAY) Yulianto masih enggan berkomentar. Dia mengaku masih akan melakukan konsolidasi diinternal anggota sebelum menyatakan sikap. "Kami akan melakukan konsolidasi dulu kepada anggota sebelum mengambil sikap," katanya.

PPMAY merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah yang melaksanakan uji coba kedua Malioboro bebas kendaraan bermotor pada dua kali sebelumnya. Pasalnya sejak uji coba pertama hingga evaluasi yang dilakukan oleh Pemkot, PPMAY tidak pernah dilibatkan. "Sampai saat ini pun, kami tidak tahu hasil evaluasinya seperti apa. Sebab kami tidak dilibatkan," katanya.

Padahal, kata Yulianto, dari pelaksanaan uji coba pertama 18 Juni lalu dan uji coba kedua 23 Juli pelaku usaha mengalami penurunan omzet hingga 50%. Yulianto menilai hal itu sebagai bentuk pemerintahan selama ini tidak "memanusiakan" warganya. "Kami merasa tidak diuwongke sebagai warga yang terkena dampaknya. Seharusnya tidak begini caranya," kata Yuli.

Memang, katanya, banyak atraksi kesenian dan kebudayaan yang digelar sepanjang jalan tersebut. Hanya saja hal itu bukan jaminan orang datang ke Malioboro untuk berbelanja. Mereka datang hanya untuk melihat pertunjukan. "Banyak yang datang hanya ingin mengetahui bagaimana kondisi Malioboro sehingga mengganggu omzet kami. Mari duduk bersama mencari solusinya," kata Yuli.

Kepala Dishub DIY Sigit Sapto Raharjo mengatakan dikarenakan uji coba jalur pedestrian kali ini diberlakukan secara penuh dia berharap atraksi kesenian dan kebudayaan yang dilakukan komunitas tidak memakan penuh kawasan jalur pedestrian. Alasannya, kawasan trotoar berfungsi untuk pejalan kaki. Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata. 

"Jadi fungsi trotoar tetap digunakan. Jangan sampai ada panggung agar tidak memakan trotoar. Sebab jalan utama tetap difungsikan untuk kendaraan tidak bermotor dan bus Transjogja," katanya.

Menanggapi pelaku usaha yang mengaku omzetnya turun, Sigit berharap agar pelaku usaha di Malioboro bisa menangkap peluang usaha lain jika kawasan Malioboro menjadi kawasan pedestrian. "Pengusaha perlu menangkap animo masyarakat yang suka dengan kegiatan nongkrong. Biasanya pengunjung jalan-jalan terus haus. Maka pengusaha bisa buka kedai kopi atau makanan agar Malioboro tetap hidup sampai malam," katanya.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan siapapun dapat berkiprah dan terlibat untuk mengisi atraksi kesenian dan kebudayaan di Malioboro. Hanya saja, perlu dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkiat seperti dinas kebudayaan maupun dinas pariwisata. "Cuma titik-titik lokasi pertunjukan harus jelas. Ada kesenian, fungsi trotoar juga harus jalan. Harus ada seleksi dan inovasi juga sebagai daya tarik," katanya.