Warga Berharap Kepastian Pembebasan Lahan untuk Jalur Kereta Api

Kondisi Stasiun Kedundang, Temon. JIBI/Dokumen
28 Agustus 2019 10:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, TEMON--Warga yang terkena dampak pembangunan jalur kereta api menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) berharap segera mendapatkan kepastian terkait status pembebasan lahan.

Salah satu warga yang rumahnya terkena dampak pembangunan jalur kereta api, Yuni Prasetyo mengaku belum mendapatkan kepastian luasan lahannya yang akan dibebaskan. "Sudah ada uji publik dari sebelum lebaran. Tapi belum tahu luasan lahannya berapa yang terkena proyek," katanya Senin (26/8/2019).

Meskipun sejak awal uji publik sudah ada pematokan, namun pihaknya merasa tidak ada kejelasan dan tindak lanjut dari pematokan itu. "Kalau saya pengennya, tahu ini [rumah] kena proyek itu segera saja, berapa luasannya yang kena. Kalau seperti ini terus malah jadi beban," ujarnya.

Tidak hanya luasan lahannya saja yang ia harapkan segera ada kejelasan, ia pun berharap, ada kejelasan terkait nilai ganti rugi dari pembebasan lahan.

"Ganti rugi layaknya seperti pas waktu mau bangun bandara. Apalagi kalau sekarang kan harga tanah setelah ada bandara ini sudah naik semua. Kalau bisa juga disiapkan lahan relokasi sekalian jadi hak milik. Tidak hanya HGB [Hak Guna Bangunan]," kata Yuni.

Di Dusun Siwates, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, tidak hanya rumah milik Yuni saja yang akan terkena dampak, ada 10 rumah lainnya yang direncanakan masuk pada pembebasan lahan.

Selain rumah, ada juga lahan persawahan dan sebuah lahan calon rumah sakit milik Nahdlatul Ulama Kulonprogo. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kulonprogo, Wasiludin berharap, tanah wakaf yang disiapkan pihaknya untuk dijadikan rumah sakit itu ada kejelasan status.

"Belum clear juga luas lahannya berapa yang akan terdampak," ujar Wasiludin. Ia mengatakan, butuh kepastian, agar pembangunan dan operasional rumah sakit ke depannya pun jelas.

"Kami pertimbangkan lagi, kalau memang nanti setelah jadi rel rumah sakit tidak bisa beroperasi, maka lebih baik semua lahan yang akan dijadikan rumah sakit itu dibeli dari sekarang agar bisa mencari lahan baru," ungkap Wasiludin.

Pihaknya mempersiapkan tanah wakaf tersebut untuk dijadikan rumah sakit dari 2012 silam. Luas total lahan yang direncanakan akan dibangun rumah sakit yaitu 3.500 meter persegi. Sampai awal tahun pihaknya sudah melakukan proses pengurugan tanah. Namun, karena direncanakan akan dijadikan jalur rel kereta api, maka pengurugan dihentikan.

Kepala Desa Kaligintung, Harjono mengatakan, pembangunan jalur rel kereta api menuju bandara itu akan membuat 11 rumah dan 140 bidang tanah di Desa Kaligintung terdampak. Tanah kas desa pun terdampak dengan luasan 618 meter.

Menurutnya, rata-rata warga tidak menolak pembangunan jalur rel kereta api tersebut. "Warga hanya inginkan nilai ganti rugi dari pembebasan lahan itu nantinya tidak terlalu rendah, karena sebagian besar lahan warga masuk lahan produktif," jelas Harjono.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Zulmafendi mengatakan, sampai saat ini progres pembangunan jalur kereta api menuju bandara masih dalam tahap pembebasan lahan. "Kita juga siapkan lelang untuk mulai pengerjaan di Oktober," katanya. Untuk tahap awal, pengerjaan jalur kereta akan dimulai di dua titik, yaitu 500 meter dari bandara dan dari Stasiun Kedundang, Kulonprogo.

Belum Maksimal

Dalam kunjungannya ke Stasiun Kedundang, Kulonprogo kemarin sore, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan skenario yang bisa diambil untuk optimalisasi aksesibilitas penumpang bandara menggunakan kereta api. Menurutnya, sampai 2020, kereta bandara, masih menggunakan jalur Stasiun Maguwo ke Stasiun Wojo. Lalu, dari Stasiun Wojo penumpang yang mau ke Bandara YIA bisa menggunakan bus.

Namun, menurut Budi, saat ini dua buah rangkaian kereta yang beroperasi melayani penumpang bandara belum dimaksimalkan. "Sekarang ini [moda kereta api] belum dimaksimalkan meski kereta eksisting ada di sini. Ke depan, saya minta [jadwal] direview dan frekuensinya lebih banyak," tutur Budi.