Tersangka Calo CPNS Polda DIY Ternyata Residivis

Budi Suhartatik (dua dari kiri) tersangka penipuan dengan menjadi calo CPNS Polda DIY saat di Mapolres Bantul, Kamis (29/8/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
29 Agustus 2019 16:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Budi Srihartati, 47, warga Pulomerak, Cilegon, Banten, nama lengkap perempuan yang ditangkap aparat Polres Bantul, lantaran menjadi calo CPNS Polda DIY yang ditangkap oleh Satuan Reskrim Polres Bantul, ternyata tak hanya sekali beraksi. Ibu rumah tangga yang tinggal mengontrak berpindah-pindah tersebut bahkan pernah dijatuhi hukuman oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri Wates.

Berdasarkan hasil penelusuran, Budi Srihartati pernah dijatuhi hukuman selama empat bulan karena kasus penipuan beberapa kali. Putusan tersebut tertuang di laman Pengadilan Negeri (PN) Wates dengan Nomor Putusan 136/Pid.B/2013/PN.Wt. Kasus penipuan itu diungkap oleh Polsek Kasihan.

Iptu Rusyanto, salah satu penyidik Polres Bantul yang menangani kasus penipuan Budi Srihartati membenarkan bahwa tersangka Srihartati pernah dihukum penjara di Rumah Tahanan Kelas IIB Wates. "Iya benar, tersangka kena [hukuman kurungan] tiga atau empat bulan kalau tidak salah," kata Rusyanto, Kamis (29/8/2019).

Rusyanto mengatakan tersangka dinilai pandai mengelabuhi korban. Tempat tinggal tersangka juga berpindah-pindah. Pernah di Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul. Dalam kasus yang ditangani Polres Bantul, Srihartati menipu korban dengan modus bisa membantu proses pendaftaran menjadi staf di Polda DIY.

Kasus penipuan itu terjadi pada 30 Juli lalu. Namun korban asal Bawuran Pleret, Bantul, baru melapor ada 20 Agustus setelah tersangka pergi dari rumah kontrakan di Bawuran. Dua hari krmudian polisi menciduk tersangka di salah satu penginapan di wilayah Banyimas, Jawa Tengah.

Sementara itu Srihartati menampik disebut lebih dari sekali menipu. Ia mengaku baru pertama kali menipu karena kepepet kebutuhan. Ibu rumah tangga yang sehari-harinya bekerja tukang kredit berbagai kebutuhan rumah tangga itu juga menampik menggunakan semua uang hasil penipuan sendiri. "Uang juga saya pakai bersama korban juga. Ada yang digunakan untuk acara 17 Agustusan di kampung," kata Sri Hartati.