Anak Berkebutuhan Khusus Tampilkan Koreografi Pencak Silat di Malioboro

Belasan ABK berfoto bersama usai menampilkan koreografi pencak di PMF 2019, Sabtu (7/9/2019). - Harian Jogja/Sunartono.
07 September 2019 19:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pencak Malioboro Festival (PMF) 2019 mulai digelar di Panggung Monumen Serangan Umum 1 Maret kawasan Malioboro Kota Jogja, sejak Jumat (6/9/2019) hingga Minggu (8/9/2019). Sekelompok anak berkebutuhan khusus (ABK), dalam hal ini anak dengan down syndrome dan tuna grahita tampil dengan koreografi pencak silat dalam event tersebut pada Sabtu (7/9/2019) sore.

Panitia PMF 2019 Shinta Kertasari menjelaskan dalam kompetisi koreografi pencak tersebut diikuti sebanyak 40 tim dari berbagai kota di Indonesia. Selain itu ada tim dari Malaysia dan Singapura yang turut dalam kompetisi koreografi pencak dengan berangkat dari perguruan masing-masing. Pelaksanaan dibagi menjadi dua tahapan, sebanyak 20 tim pada Jumat (6/9/2019) dan sisanya dipertandingkan Sabtu (7/9/2019).

“Dalam koreografi ini tujuannya agar praktisi pencak silat bisa berinovasi bagaimana mengemas pencak silat ini menjadi pertunjukan yang menarik bagi masyarakat sehingga masyarakat mengetahui apa itu pencak silat,” katanya Sabtu (7/9/2019).

Ia berharap melalui koreografi tersebut, keindahan gerakan pencak silat tidak hanya diketahui masyarakat Indonesia namun juga menarik minat warga negara asing. Adapun para peserta berasal dari usia Sekolah Dasar (SD) hingga dewasa.  “Yang dinilai keindahan, tata gerak, tata panggung, tata musiknya dengan juri profesional,” katanya.

Shinta mengatakan, salah satu yang menarik dalam kompetisi koreografi pencak ini adalah keterlibatan ABK sebagai peserta. Mereka berasal dari komunitas Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (Potads) dan anak tuna grahita dari SLB Pembina. “Kami sangat mengapresiasi adik-adik [ABK] ini bisa mengikuti dan tampil dengan sangat baik dan bersemangat. Karena ternyata, pencak silat itu bisa menjadi terapi bagi adik-adik ini,” ujarnya.

Sekretaris Potads Yogyakarta, Titik Rahayu menjelaskan, keterlibatan ABK dalam koreografi tersebut merupakan kolaborasi antara anak dengan down syndrome dan anak tuna grahita dari SLB Pembina. Khusus untuk anak dengan down syndrome tampil sebanyak 15 anak menampilkan koreografi pencak.

“Anak-anak [ABK] ini baru dilatih silat sejak awal tahun ini, kebetulan awalnya untuk latihan persiapan mengisi acara hari down syndrome tetapi kemudian berlanjut sampai latihan rutin, dan beberapa kali kami tampil di event. Pelatihnya kami hadirkan dari UNY,” ujarnya di sela-sela acara PMF 2019.

Ia mengakui besarnya manfaat pencak silat bagi anak dengan down syndrome karena ada gerakan motorik kasar, motorik halus serta menambah rasa percaya diri pada anak untuk tampil di depan publik. “Pencak silat ini sangat bermanfaat sekali bagi anak dengan down syndrome karena melatih motorik kasar, meskipun gerakannya sangat dasar mulai dari memukul menangkis, tendang sikut. Kemudian ada gerakan silang-silang itu bisa melatih simulasi kognitifnya,” ucapnya.