Puluhan Siswa SMAN 1 Godean Dilatih Hadapi Banjir Informasi & Hoaks

Pelatihan jurnalistik di SMAN 1 Godean, Sleman, Senin, (9/9/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
09 September 2019 23:17 WIB Budi Cahyana Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pelatihan jurnalistik dan safety riding digelar di SMAN 1 Godean, Jl. Sidokarto No.5, Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, DIY, Senin (9/9/2019). Acara tersebut adalah hasil kerja sama Harian Jogja dan Yamaha, diikuti oleh 58 siswa.

Wakil Kepala Urusan Kurikulum SMAN 1 Godean Tri Ismiyati mengatakan pelatihan jurnalistik dan sosialisasi safety riding digelar bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional yang jatuh pada 9 September.

“Kami terlebih dahulu melakukan senam dan jalan sehat yang diikuti oleh seluruh warga SMAN 1 Godean. Setelah kegiatan itu, kalau anak-anak langsung dikasih kegiatan belajar belajar  pasti kurang efektif karena mereka masih capek, akhirnya kami isi pelatihan jurnalistik dari Harian Jogja dan sosialisasi safety riding,” kata Tri.

Sebanyak 58 siswa mengikuti pelatihan jurnalistik. Beberapa guru juga mengikuti pelatihan yang diampu redaktur Harian Jogja Maya Herawati.

“Kami memang jarang melakukan pelatihan jurnalistik di sekolah, biasanya kami mengirim siswa ke sebuah pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan DIY maupun Balai Bahasa, ini merupakan hal yang baru dan positif bagi anak-anak,” katanya.

SMAN 1 Godean juga memiliki ekstrakurikuler yang berkaitan dengan literasi seperti ekstrakurikuler jurnalistik dan karya ilmiah remaja (KIR). Pelatihan jurnalistik sangat berguna untuk memberikan bekal kepada siswa dalam menyaring banjir informasi di medsos. Pelajar diberi pemahaman untuk menyaring informasi.

“Dengan pelatihan jurnalistik, kami berharap anak-anak dapat langsung mencari sumber berita atau mengklarifikasi kebenaran informasi ketika mendapat kabar entah di Whatsapp maupun media sosial lainnya. Kalau beritanya sampah jangan buru-buru dibagikan,” ujarnya.

SMAN 1 Godean juga memiliki program lintas minat sastra Indonesia yang diberikan kepada siswa saat kelas X.

“Kami juga punya program bahasa peminatan seperti bahasa Inggris dan sastra Inggris, ke depan semoga anak-anak bisa lebih jago lagi dalam hal yang berkaitan dengan jurnalistik dan dalam membuat KIR,” kata Tri.

Redaktur Harian Jogja Maya Herawati dalam paparannya kepada siswa SMAN 1 Godean juga menekankan pentingnya unsur 5W plus 1H dalam penulisan berita.

Penulisan sebuah produk jurnalistik atau berita, menurut Maya, bukan hanya sekadar mencurahkan isi hati. Sebuah berita itu harus mampu dipertanggungjawabkan, aktual, dan informatif.

Kualitas berita, lanjut Maya, tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan, yaitu 5W+1H yang sudah harus dimengerti di luar kepala bagi seorang jurnalis.

“5W+1H merupakan singkatan dari what, who, when, where, why, how, yang dalam bahasa Indonesia menjadi apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana. Semua unsur tersebut yang harus terkandung dalam sebuah artikel biasa atau berita biasa,” ujar dia.

Selain itu, peserta juga diminta untuk mendefinisikan apa itu hoaks dan mengutarkan pendapat mereka.

“Mayoritas peserta memahami hoaks dan tahu apa yang harus dilakukan untuk menelusuri kebenaran informasi,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini, Maya juga meminta peserta untuk menulis opini tentang teman mereka. “Opini ini berguna untuk melatih siswa menggunakan bahasa yang baik dan beretika ketika menulis pendapat di media sosial.”

Di era digitalisasi ini, lanjut Maya, warga juga bisa menjadi wartawan dengan jembatan medsos seperti Facebook, Line, Whatsapp, Instagram, maupun Twitter.

Ia juga mendorong peserta pelatihan agar bisa menjadi wartawan warga.

“Kalau kalian melihat sebuah kejadian, kalian bisa langsung menuliskannya dalam sebuah berita dengan memperhatikan aspek 5W+1H,” katanya.

Penanggung Jawab Promosi Jogja PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing Herdyan Trikuncoro mengatakan Yamaha dalam kurun waktu setahun mencapai jutaan pertumbuhan kendaraan roda dua.

Dahsyatnya pertumbuhan kendaraan roda dua itu juga selaras dengan tingginya angka kecelakaan tiap tahun yang mencapai rata-rata 25.000 kecelakaan.

“Dalam kurun waktu satu jam ada dua hingga tiga orang meninggal di jalan, oleh karena itu kami tanamkan ke siswa pentingnya safety mindset yang harus dimiliki oleh setiap pengendara kendaraan bermotor khususnya roda dua,” jelasnya.

Herdyan mengungkapkan penyebab kecelakaan beragam, mulai dari pengendara yang kurang terampil, kondisi fisik pengendara yang kurang fit, lalu kendaraan yang tak memenuhi aspek keselamatan, hingga jalan rusak. “Yang paling sering adalah manusianya tidak memprioritaskan keamanan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Yamaha serius dalam hal urusan safety riding. Yamaha Riding Academy menunjukkan usaha Yamaha untuk mendorong aspek keselamatan berkendara.

“Markas kami di Maguwoharjo, kami punya tim dari Jepang yang bersertifikat, kepolisian juga kerap mengadakan pelatihan motor di Yamaha, kami panggil instruktur dari Jepang untuk melatih mereka,” tuturnya.

“Setiap unit baru Yamaha juga telah melalui uji coba dari teknisi dan insinyur andal dari Jepang.”