Kemampuan Pengajar Mandarin Jogja Mumpuni

Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa pendidikan di Tiongkok./ Ist - BKPBT
12 September 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pengajar bahasa Mandarin di DIY dinilai memiliki kemampuan mengajar dan berbahasa yang mumpuni. Hal itu tak lepas dari program beasiswa untuk belajar ke Tiongkok. 

Kali ini, sebanyak tujuh mahasiswa dari DIY mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu di di Universitas Huaqiao, Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok. Sekretaris Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (BKPBT) DIY Nicodemus Sanny mengungkapkan para mahasiswa tersebut mengambil jenjang S1 untuk kurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Mandarin.  "Beasiswa yang didapat meliputi free uang kuliah, free asrama, uang tunai 8.000 yuan [Rp15,8 juta] per tahun selama empat tahun. Lalu mereka juga akan kontrak dengan Badan Koordinasi Pengembangan Pendidikan Bahasa Tionghoa DIY untuk nanti mengajar selama tiga tahun usai lulus," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja, Rabu (11/9).

Mahasiswa yang berhak mengikuti seleksi beasiswa yakni yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin di level Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) 3, sudah lulus SMA atau SMK, dan sudah mencapai usia 18 tahun ketika berangkat ke Tiongkok.

"Selain tujuh mahasiswa yang dari DIY, ada dua orang yang sudah berangkat duluan dan mengambil kampus yang berbeda. Siswa yang melalui proses seleksi di DIY lulus semua dan berangkat semua," kata dia.

Ia mengungkapkan program ini memiliki tujuan untuk menciptakan pengajar bahasa Mandarin. Program ini sudah ada sejak 2001 dan DIY mulai mengirimkan wakilnya pada 2007.  "Boleh dikatakan mayoritas komposisi pengajar bahasa Mandarin di DIY hasil dari program ini. Sudah hampir 80 persen guru Mandarin atau laoshi yang saat ini mengabdi di DIY hasil program beasiswa ini," kata dia.

Ia mengungkapkan peminat dari tahun ke tahun fluktuatif. Memang ada tahun-tahun tertentu peminatnya sedikit. Tahun ini termasuk paling banyak. Jika dirata-rata per tahun ada tiga hingga lima mahasiswa yang mendapatkan beasiswa.

Kualitas pengajar di DIY bagus karena disiplin ilmu sesuai karena pengajar. Kemampuan bahasa mereka juga memadai. Saat mereka lulus dan kembali sudah dijamin minimal kompetensinya HSK 5. Itu juga sebagai syarat untuk berlanjut ke jenjang S2," ungkap dia.

Para mahasiswa tersebut akan belajar selama empat tahun. Mereka akan mendalami soal ilmu pendidikan termasuk psikologi anak, sejarah ilmu pendidikan internasional, teknik pengajaran yang di dalamnya mencakup penggunaan jenis media.

Setelah itu, mereka tinggal menyesuaikan dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. "Mereka juga ada masa praktik di tahun terakhir. Ada sebagian yang memilih praktik di Indonesia sekalian untuk persiapan mengajar. Mereka setelah pulang akan mengabdi untuk mengajar dan akan diatur oleh Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin DIY atau ada dua yang di bawah sekolah tiga bahasa Budi Utama," kata dia.