Cegah DBD, Dinkes Bantul Lakukan 400 Kali Pengasapan

Seorang petugas dari Dinas Kesehatan Bantul sedang melakukan pengasapan atau pogging di Pedukuhan Bogoran, Desa Trirenggo, Bantul, Selasa (10/9/2019). Kepala Dukuh Bogoran Istiyarno mengatakan sudah ada tiga warga yang terjangkit DBD di RT 03 dan RT 04 Bogoran, salah satu di antaranya dinyatakan positif. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
12 September 2019 10:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Kesehatan Bantul tetap melakukan fogging atau pengasapan untuk memberantas nyamuk pembawa virus demam berdarah dangue (DBD) meski cara tersebut sebaiknya dihindari dan mengedepankan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN.

“Fogging tetap dilaksanakan berdasarkan kebutuhan, berdasarkan syarat-syarat yang harus terpenuhi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Tri Wahyu Joko Santoso, saat dihubungi Selasa (10/9/2019).

Tri Wahyu mengatakan selama 2019 ini sampai September sudah sekitar 400 kali fogging dilakukan di beberapa titik atau pedukuhan di Bantul. Pihaknya tidak menargetkan berapa kali harus pogging, namun berdasarkan kebutuhan yang memaksa harus dilakukan pogging. Sebab, pria yang akrab disapa dokter Oky ini menyatakan ada persyaratan khusus yang terpenuhi sehingga harus pogging.

Setidaknya ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi, yakni adanya surat kewaspadaan dini dari rumah sakit  atau KDRS yang merawat pasien dengan diagnosa DBD, ada tiga kasus atau lebih di wilayah pasien DBD yang mendapat gejala yang sama atau gejala DBD sepeerti demam atau panas tanpa sebab, dan ketiga adalah hasil pengamatan epidemiologi atau ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit, angka bebas jentik di wilayah pasien tersebut mencapai 95%. “Ketiga syarat itu harus ada. Bukan salah satunya atau salah duanya,” ungkap Oky.

Ia mengakui fogging bukan cara yang paling efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa  untuk memutus mata rantai penularan. Sementara jentiknya. Yang perlu di kedepankan, kata Oky adalah upaya pemberantasan sarang nyamuk melalui menguras, menutup, dan mengubur tempat bersarangnya nyamuk serta menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Oky meminta masyarakat menggerakan PSN minimal dua hari sekali.

Sementara data DBD selama 2019 sampai September ini tercatat 1.070 kasus. Dari jumlah tersebut tiga orang di antaranya meninggal dunia. Menurut Oky angka kasus DBD itu memang cukup banyak jika di bandingkan tahun lalu. Namun Oky menegaskan bahwa kasus demam berdarah tidak bisa dibandingkan dari tahun ke tahun atau dari bulan ke bulan, karena penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu tergantung cuaca alam dan perubahan lingkungan, dan kelembaban udara.

Terkadang, kata dia, jika terjadi kemarau panjang tanpa hujan justeru tren kasusnya menurun, dan meningkat laki jika terjadi turun hujan. Demikian sebaliknya jika hujan terus menerus tren kasus juga menurun dan meningkat kembali saat masuk kemarau. Ia mencatat sejak tiga bulan terakhir ini tren angka kasus DBD menurun jika dibandingkan Maret-Mei lalu.

Lebih lanjut Oky justru mewaspadai adanya siklus lima tahunan terjadinya lonjakan kasus DBD. Siklus tersebut dimungkinkan terjadi pada 2020 mendatang, sebab angka terbanyak DBD di Bantul terjadi pada 2016 lalu yang mencapai 2441 kasus dalam setahun. Tahun berikutnya kembali menurun sebanyak 538 kasus pada 2017, dan 2018 sampai Oktober mencapai 115 kasus. “Januari-Februari tahun depan ini yang perlu diwaspadai kemungkinan adanya tren peningkatan kasus,” ucap Oky.

Disinggung soal efektivitas program Elimunate Dengue Project (EDP) yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan menyebar nyamuk berbakteri wolbachia untuk menanggulangi demam berdarah? Oky mengaku tidak mengetahui karena tidak melakukan pengawasan langsung.

Oky mengatakan pelepasan nyamuk berbakteri wolbachia merupakan penelitian UGM. Program tersebut sepenuhnya dilakukan oleh UGM termasuk pemilihan lokasi. Diketahui ada dua lokasi yang menjadi lokasi pengembangbiakan nyamuk berbakteri walbachia, yakni di Jomblangan Banguntapan dan Panggungharjo Sewon.

“Berdasarkan pandangan kasat mata memang ada penurunan kasus DBD khusus di lokasi penyemaran nyamuk ber-walbachia jika dibandingkan dengan dusun lainnya,” kata Oky.

Sementara itu dari 1.070 kasus DBD di Bantul, 58 kasus di antaranya ada di Kecamatan Bantul yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Bantul, Trirenggo, dan Palbapang. Bahkan satu orang di antaranya meninggal dunia di Bantul kota tersebut tahun ini.

Camat Bantul Jati Bayubroto mengaku prihatin tingginya angka demam berdarah di wilayahnya. ia mengatakan gerakan PSN sebenarnya sudah lama digelorakan namun kesadaran  masyarakat masih perlu terus diingatkan, “Kalau dari tim kecamatan dan desa masih rutin menggerakan PSN tapi masyarakat yang kurang greget,” kata Jati. Ia meminta masyarakat untuk tidak terbiasa hidup dengan nyamuk karena nyamuk aedes aegypti membahayakan.