Sleman Distribusikan 73 Tangki Air Bersih

Warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih dari Polsek Girimulyo di Dusun Ngaglik, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Jumat (28/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
21 September 2019 16:57 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pendistribusian air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Sleman terus dilakukan, hingga 20 September, sudah ada 73 tangki air bersih yang didistribusikan kepada warga di tiga desa dari dua kecamatan di Kabupaten Sleman.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan mengatakan, 73 tangki air yang didistribusikan tersebut terdiri dari 36 tangki air dari BPBD Sleman, serta 37 tangki air bersih dari pihak ketiga.

Adapun wilayah yang mendapat distribusi, yakni Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan sebanyak 36 tangki air bersih, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan sebanyak 32 tangki air bersih, sedangkan SMP N 2 Moyudan di Desa Sidoarum, Kecamatan Moyudan sebanyak lima tangki air bersih.

“Jumlah tersebut nanti ditambah untuk Dusun Gedang Bawah, Desa Sambirejo, surat pengajuan baru masuk ke BPBD,” kata Makwan kepada Harian Jogja, Jumat (20/9/2019).

Makwan mengatakan, di SMP N 2 Moyudan juga mengalami kekeringan dikarenakan sumur yang mengering, oleh karenanya, diberikan bantuan distribusi air bersih. “Untuk kebutuhan kamar mandi dan wudhu,” ucap dia.

Ia menjelaskan, pada tahun anggaran 2019 ini, BPBD Sleman telah menyiapkan  300 tangki air bersih guna mengatasi kelangkaan air di wilayah yang terdampak kekeringan. “Setiap tangki airnya masing-masing berisi 5.000 liter. Diperkirakan cukup pada Kemarau ini,” kata dia.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Staklim Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengatakan, berdasarkan monitoring kondisi dinamika atmosfer, awal musim hujan umumnya diprakirakan pada November dasarian I - III kecuali wilayaha Sleman bagian barat dan Kulon Progo bagian utara yakin pada Oktober dasarian III atau sepuluh hari terakhir Oktober.

“Bila dibandingkan dengan kondisi normalnya awal musim hujan 2019/2020 diprakirakan lebih lambat 1-2 dasarian,” kata Etik.

Ia mengatakan, awal musim hujan  diprakirakan lebih lambat  dikarenakan faktor kondisi dinamis seperti, IOD ( Indian Ocean Dipole) sampai dengan November diprediksikan IOD positif cenderung ke netral yang berdampak pengurangan curah hujan, suhu muka air laut yang masih dingin hingga Oktober, serta peralihan angin timuran ke baratan diprediksi terlambat.

“Untuk puncak musim hujan diprakirakan akan terjadi pada Januari-Februari 2020,” kata dia.