Kekeringan: Distribusi Air Bersih Pemkab Sleman Belum Maksimal

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
23 September 2019 06:07 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah kekeringan belum maksimal. 

Anggota DPRD Kabupaten Sleman Sumaryatin menilai distribusi air bersih yang dilakukan selama ini dinilai masih jauh dari kebutuhan, terutama ke daerah yang terdampak kekeringan, seperti misalnya di Kecamatan Prambanan. Saat ini, kata dia, ada beberapa desa di Kecamatan Prambanan yang memerlukan bantuan air bersih dan belum mendapatkan dropping yang memadai.

“Pendistribusian air bersih yang sudah dilakukan Pemkab selama ini memang harus diapresiasi. Namun, terlepas dari itu, keperluan masyarakat terhadap air bersih masih sangat besar,” kata dia kepada Harian Jogja, Minggu (21/9).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan ada beberapa dusun di Desa Sambirejo dan Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan yang belum menerima pengedropan air bersih. Sebagai gambaran, kata dia, di Desa Gayamharjo ada 1.659 kepala keluarga (KK), jika satu KK membutuhkan 150 liter air dalam sehari. Satu tangki air yang berisi 5.000 liter air sehari hanya cukup untuk melayani 33 keluarga. “Sedangkan jika satu dusun ada 300 KK, maka dropping yang harus dilakukan idelanya sebanyak sembilan tangki per hari,” ucap dia.

Untuk itu, dia mendesak Pemkab Sleman untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di saat kekeringan, jangan sampai warga membeli air bersih karena itu memerlukan dana biaya yang besar.

“Rata-rata warga di daerah kekeringan itu rawan miskin, kalau harus beli air bisa jatuh miskin. Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak dari adanya bencana, termasuk kekeringan,” ucap dia.

Selain itu, dia mengatakan jika ada masyarakat yang membutuhkan dropping air, didorong segera  berkoordinasi dan berkomunikasi dengan aparat desa, sehingga bisa pengedropan air bersih bisa dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan mengatakan pada tahun ini, BPBD Sleman telah menyiapkan 300 tangki air bersih guna mengatasi kelangkaan air di wilayah yang terdampak kekeringan.

“Setiap tangki airnya masing-masing berisi 5.000 liter. Diperkirakan cukup pada musim kemarau tahun ini,” kata dia.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Staklim Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengatakan berdasarkan monitoring kondisi dinamika atmosfer, awal musim hujan umumnya diprakirakan pada dasarian I-III November. Adapun di wilayah Sleman bagian barat dan Kulonprogo bagian utara hujan diprediksi turun pada dasarian III Oktober.

“Bila dibandingkan dengan kondisi normalnya awal musim hujan 2019-2020, diprediksi, kedatangannya lebih lambat sekitar 1-2 dasarian,” kata Etik.

Awal musim hujan diprkirakan lebih lambat, menurut dia disebabkan faktor kondisi dinamis seperti, Indian Ocean Dipole (IOD) sampai dengan November diprediksikan IOD positif cenderung ke netral yang berdampak pengurangan curah hujan, suhu muka air laut yang masih dingin hingga Oktober, serta peralihan angin timuran ke baratan diprediksi terlambat.