#GejayanMemanggil: Festival Isu yang Menepis Kecurigaan

Demonstran mengusung poster saat ikut GejayanMemanggil di Pertigaan Colombo, Sleman, Senin (30/9/2019). - Harian Jogja/Budi Cahyana
30 September 2019 22:32 WIB Budi Cahyana & Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dua kali demonstrasi #GejayanMemanggil dihelat, dua kali pula berlangsung aman, lancar, dan menggembirakan, meski berkali-kali dicurigai dengan beragam alasan.

#GejayanMemanggil jilid pertama dan sekuelnya, sama-sama diadakan pada tengah hari, saat panas terasa dobel, dari sengatan Matahari dan aspal. Dua unjuk rasa yang dirancang Aliansi Rakyat Bergerak tersebut juga sama-sama diikuti ribuan orang, tetapi dengan pemandangan berbeda.

Senin (23/9/2019) pekan lalu, massa yang datang dari selatan, barat, dan utara, tumplak di satu lokasi: Pertigaan Colombo. Kerumunan terlihat sangat padat dan hanya menyisakan sedikit jengkal bagi tiap orang untuk berjalan.  Selama tiga setengah jam, pertigaan itu sangat sesak, penuh dengan teriakan-teriakan dan suara orator yang terdengar nyaring dari pelantang.

Tepat sepekan kemudian, Pertigaan Colombo terasa lebih lengang. Orang-orang dengan gampang berlalu-lalang di Jalan Affandi tanpa harus berhimpit-himpitan. Sepintas lalu, demonstran terlihat lebih sedikit ketimbang Senin sebelumnya.

Namun, ini bukan karena massa yang mengecil, melainkan lantaran kelimun demonstran yang menyebar. Pengunjuk rasa membentuk kelompok-kelompok yang terpisah di sepanjang Jalan Affandi dari depan RRI menuju utara sampai selatan restoran Dixie.

“Ada lima panggung yang kami sediakan di demonstrasi kali ini,” kata Nailendra, Juru Bicara Aliansi Rakyat Bergerak kepada Harian Jogja.

Panggung itu, yang bukan seperti panggung pada umumnya karena sebenarnya adalah kendaraan pikap, dipakai untuk beraneka ekspresi. Mulai dari orasi hingga musik akustik. Saat #GejayanMemanggil edisi pertama, hanya ada dua mobil pikap: satu dipakai rombongan jurnalis untuk memotret lautan manusia, satu lagi untuk orator menyuarakan tuntutan-tuntutan.

Aliansi Rakyat Bergerak kemudian mengubah konsentrasi massa menjadi lebih menyebar karena dua alasan.

“Agar massa lebih terkontrol dan memudahkan tim medis. Selain itu, kami bisa memanfaatkan lima panggung bersama-sama untuk orasi atau ekspresi seni,” ucap Nailendra.

Aliansi Rakyat Bergerak ingin menjadikan jilid kedua #GejayanMemanggil berbentuk apa yang disebut Nailendra sebagai festival isu: seperti karnaval tempat mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat lain menyampaikan aspirasi mereka.

“Tidak mungkin kami membuat mimbar hanya di satu titik, karena ada pelajar, buruh, petani, seniman, dan elemen masyarakat lainnya. Jadi di sepanjang Jalan Gejayan [Jalan Affandi], ruang-ruang demokrasi kami buka, ruang-ruang partisipasi kami buka.”

Ruang partisipasi tersebut terlihat jelas dalam tiga jam, dari sekitar pukul 13.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB. Pelajar diminta berorasi di bak pikap yang ditempatkan di depan RRI. Orasi satu remaja berseragam sekolah menengah tak selancar dan seartikulatif mahasiswa-mahasiswa, tetapi dengan semangat yang bisa menggerakkan orang-orang berteriak dan mencerca DPR bersama-sama.  Pikap lain di depan Universitas Sanata Dharma mementaskan musik perlawanan, misalnya lagu Merah Bercerita, Kebenaran Akan Terus Hidup. Di ujung utara, mahasiswa berjas almamater Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menunaikan salat berjemaah saat hari mengancik Asar.

Demonstrasi yang menyerupai festival ini juga menyediakan tempat leluasa untuk para pengasong minuman dan kudapan.

“Senin lalu teman-teman saya pedagang bakwan kawi tidak ke sini karena sangat ramai dan tidak ada jalan untuk lewat. Sekarang kami bisa berjualan, dan dagangan kami cepat habis,” kata Muryono, bakul bakwan kawi, yang menjual ludes lima kilogram dagangannya hanya dalam waktu sekitar empat jam.

Penjual dawet, air mineral, siomay, bakpao, memenuhi ruas-ruas jalan tempat pengunjuk rasa bergerombol sambil duduk-duduk menyimak orasi, mendengarkan musik, atau bercakap-cakap.

Menepis Kecurigaan

Di luar atmosfer karnaval yang sangat terasa di #GejayanMemanggil jilid kedua, tuntutan yang disuarakan tak berbeda jauh dengan demonstrasi jilid pertama.

#GejayanMemanggil pertama mengusung tujuh tuntutan, yakni: mendesak pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP; mendesak pemerintah dan DPR merevisi UU KPK yang baru saja disahkan, dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia; menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan beberapa wilayah di Indonesia; menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja; menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang mereka anggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria; mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual; dan terakhir mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Sementara, sekuel unjuk rasa tersebut membawa sembilan tuntutan: hentikan segera bentuk represi dan kriminalisasi terhadap gerakan rakyat; tarik seluruh komponen militer, usut tuntas pelanggaran HAM, dan buka ruang demokrasi seluas-luasnya di Papua; mendesak penyelesaian kebakaran hutan dan lahan, termasuk menyelamatkan korban dan menangkap serta mengadili pengusaha dan korporasi pembakar hutan dan mencabut hak guna usaha maupun penghentian pemberian izin baru bagi perusahaan besar perkebunan; mendesak Presiden Jokowi menerbitkan Perppu KPK; mendesak Presiden Jokowi menerbitkan Perppu UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan; mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual; merevisi pasal-pasal bermasalah dalam RKUHP dan meninjau ulang pasal-pasal tersebut dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil; menolak RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Keamanan dan Ketahanan Siber, serta RUU Minerba; dan terakhir menuntaskan penyelesaian pelanggaran HAM dan HAM berat serta mengadili penjahat HAM.

Tak ada satu pun orator, baik di #GejayanMemanggil pertama maupun kedua, yang meneriakkan ajakan menjatuhkan Joko Widodo dari kursi presiden atau meminta pelantikan Jokowi sebagai Presiden Indonesia dibatalkan. Tak ada pula tuntutan-tuntutan penggulingan pemerintahan di poster-poster yang dibawa demonstran. Aliansi Rakyat Bergerak secara ketat mengawasi poster-poster untuk mencegah tuntutan-tuntutan pendongkelan pemerintahan Jokowi.

Walhasil, yang muncul adalah poster-poster jenaka seperti, “Panase Wis Kemripik, DPR Jangan Anti Kritik”, “Rakyat Mendesah, DPR yang Sagne” [kemungkinan ada typo untuk kata Sagne], dan kalimat sejenis.

Tak hanya bersih dari tuntutan penggulingan kekuasaan, kedua unjuk rasa itu juga bersih dari sampah. Aliansi Rakyat Bergerak menyediakan tim pemungut bungkus plastik atau botol air mineral sehingga Jalan Gejayan terlihat seperti sediakala saat unjuk rasa bubar.

Pola-pola tersebut, menurut Nailendra, menepis berbagai syak wasangka, seperti isu ditunggangi oleh kelompok tertentu yang sangat kencang menerpa mereka.  “Aksi #GejayanMemanggil bergerak untuk mengevaluasi pemerintah, tidak untuk menjatuhkannya,” kata Nailendra.

“Kami tidak ditunggangi dan direcoki politik praktis.”

Tanpa Kepemimpinan

Nailendra adalah nama samaran. Nama aslinya berinisial S. Aliansi hanya memberikan pernyataan lewat juru bicara. Tak ada koordinator, tak ada pemimpin tunggal.

“Aliansi rakyat bergerak menolak penokohan. Percuma ada nama, karena nanti akan diserang secara personal, kami menolak itu karena ada buzzer [pendengung di medsos] yang melakukan tindakan represif secara lisan dan kekerasan secara linguistik,” ujar dia.

“Ketika ada satu tokoh yang keluar, gerakan kami akan mudah digembosi, apalagi peran kami adalah sebagai mediator kelompok-kelompok masyarakat menuju akses suara agar didengar.”

Strategi anonimitas atau ketiadaan pimpinan (leaderless) pada gerakan mahasiswa maupun kumpulan demonstran bukan barang baru. Contoh gerakan leaderless yang mirip dengan #GejayanMemanggil adalah gelombang demonstrasi menolak perjanjian ekstradisi dengan China yang berlangsung berbulan-bulan di Hong Kong.

Daniel Mattingly, Asisten Profesor Ilmu Politik di Yale University, Amerika Serikat, dalam artikel The Hong Kong protests have been going on for months. What explains this sustained action? yang diterbitkan di Washington Post, menyebut kelompok demonstran leaderless digerakkan oleh isu yang sama dan sangat kuat. Mereka memobilisasi diri lewat kanal-kanal perpesanan instan maupun medsos.

#GejayanMemanggil juga menempuh metode ini dengan memanfaatkan Instagram untuk menyiarkan tuntutan, panduan aksi, hingga lokasi demonstrasi.

Gerakan tanpa kepemimpinan ini, menurut Mattingly, mengadopsi falsafah legenda Holywood Bruce Lee, “Beradaptasilah selentur air, wahai saudaraku.”

Di Hong Kong, demonstran bergerak leluasa dari satu titik ke titik lainya tergantung tekanan aparat keamanan. Di DIY, #GejayanMemanggil bisa mengubah wajah demonstrasi dan kerumuman massa pada dua unjuk rasa yang dihelat dalam kurun satu pekan.

Protes leaderless terjadi di banyak tempat dewasa ini. Demonstrasi mahasiswa yang menuntut pengunduran diri Presiden Daniel Ortega di Nikaragua pada 2018 tidak berada dalam komando satu sosok pemimpin. Pada unjuk rasa besar-besaran tahun 2011 yang memicu revolusi di Mesir, demonstran mengorganisasi diri mereka melalui kombinasi saluran online dan offline.

Namun, protes tanpa kepemimpinan bukan tanpa cela. Mattingly mengatakan demonstrasi jenis ini membuat pemerintah tak bisa mengidentifikasi dengan jelas kelompok mana yang bisa diajak berembuk untuk mencari jalan keluar. Penolakan sejumlah badan eksekutif mahasiswa (BEM) berdialog dengan Presiden Joko Widodo menjadi contoh kelemahan demonstrasi leaderless.

Salah satu sumber Harian Jogja di Aliansi Rakyat Bergerak mengatakan BEM Seluruh Indonesia yang diundang Jokowi tidak bisa mewakili sepenuhnya suara demonstran, termasuk mereka yang berpanas-panasan dalam #GejayanMemanggil.

Dengan bentuk tersebut, seperti mantra Bruce Lee untuk mengalir seluwes air, Aliansi Rakyat Bergerak akan terus menyuarakan tuntutan-tuntutan mereka.

“Kami ingin mengumpulkan energi untuk mengawal isu-isu selanjutnya. Melawan tidak hanya dengan turun ke jalan. Kami juga mempersiapkan kajian di perpustakaan, menuliskan tuntutan kami, dan menyebarkannya,” kata Nailendra.