Pemkab Gunungkidul Serius Cegah Stunting

Ilustrasi stunting. - Harian Jogja
30 September 2019 01:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul serius untuk mencegah lahirnya bayi stunting. Upaya pencegahan tidak hanya dengan memberikan program kepada kepada ibu hamil, tetapi juga menyasar lingkungan di sekitar rumah.

Data dari Dinas Kesehatan Gunungkidul, upaya pencegahan stunting di Gunungkidul sudah mulai terlihat. Sebagai gambaran di 2017, jumlah bayi lahir stunting mencapai 20,6%. Namun setahun berikutnya turun menjadi 18,47%.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan jajarannya berkomitmen untuk mencegah stunting. Sejak beberapa tahun lalu program pencegahan terus digalakkan sehingga persentasenya terus menurun setiap tahunnya. “Terus kami tekan dengan harapan bayi lahir dan tumbuh dengan sehat,” katanya kepada wartawan, Sabtu (28/9/2019).

Dia menejelaskan masalah stunting pada anak balita disebabkan banyak faktor, mulai dari internal maupun eksternal. Untuk internal salah satunya dikarenakan gizi buruk yang dialami ibu semasa hamil atupun anak balita serta kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi pada saat kehamilan maupun melahirkan. Untuk faktor eksternal sangat dipengaruhi kondisi di lingkungan seperti masalah sanitasi hingga kurangnya akses layanan air bersih. “Ini yang harus diperhatikan bersama sehingga masalah stunting bisa dicegah,” katanya.

Menurut Dewi upaya pencegahan stunting dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, menyangkut masalah kesehatan dengan cara memberikan makanan tambahan pada ibu hamil, pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil, pemberian obat cacing hingga sosialisasi tentang air susu ibu (ASI) secara ekslusif kepada bayi.

Kedua, pencegahan di luar masalah kesehatan dilakukan dengna cara sosialisasi seperti masalah sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), kesehatan reproduksi kepada remaja, pencegahan pernikahan usia dini hingga program KB. “Untuk optimalisasi dalam sosialisasi juga memasang spanduk hingga banner,” tuturnya.

Bupati Gunungkidul, Badingah, mendukung upaya pencegahan stunting. Menurut dia, program pencegahan dapat dilihat dalam program Ayundya Simenik Makan Sego Ceting (Ayo Tunda Usia Menikah Mengawali Gerakan Semangat Gotong Royong Cegah Stunting). Melalui program ini tidak hanya untuk mencegah stunting karena juga sebagai upaya mengkampanyekan anti pernikahan dini. “Program ini masuk unggulan dalam pengembangan smart city di Gunungkidul,” kata Badingah.

Badingah menegaskan masalah stunting harus diselesaikan karena ke depannya berdampak terhadap pengembangan masyarakat di Gunungkidul secara umum. “Harus dicegah sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul,” katanya.