Ungkapan GKR Hayu Saat Sekaten Dianggap Identik dengan Awul-awul: Perih Atiku

Suasana pengunjung hari terakhir Perayaan Pasar Malam Sekaten (PMPS) 2018 saat hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW di Alun alun Utara, Selasa (20/11/2018). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
05 Oktober 2019 21:57 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memutuskan agar pelaksanaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) tahun ini tidak diselenggarakan. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu mengaku hatinya perih karena Sekaten diidentikkan dengan 'awul-awul'.

Putri Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas tersebut mencurahkan perasaannya lewat cuitan di Twitter @GKRHayu.

"'Ciri khas Sekaten itu awul-awul'. Rasane perih atiku," tulis GKR Hayu seperti dikutip dari cuitan di Twitter, Sabtu (5/10/2019).

Sebagai informasi, 'awul-awul' secara general dapat diartikan pakaian import atau pakaian bekas yang dijual dengan harga murah. Pakaian-pakaian tersebut biasanya dijajakan dengan ditumpuk, sehingga untuk memilihnya, konsumen harus membongkar-bongkar atau dengan kata lain pakaiannya diawul-awul.

Beberapa tahun terakhir, 'awul-awul' memang mengisi beberapa lapak di Pasar Malam Perayaan Sekaten, selain wahana permainan dan lapak kuliner yang memang sudah lebih dulu hadir di sana.

Tetapi tentu mengidentikkan Sekaten dengan 'awul-awul' bukan hal yang tepat. Dan hal itu melukai hati GKR Hayu.

Cuitan GKR Hayu yang mengaku hatinya perih karena Sekaten diidentikkan dengan 'awul-awul' pun mendapat banyak tanggapan dari pengguna Twitter yang lain.

"Kembalikan Sekaten seperti puluhan tahun lalu. Kraton mesti kasih batasan-batasan konsep agar tidak menghilangkan nilai kearifan lokal," tulis akun @ocehanemel.

"Jajanannya juga kebanyakan pentol bakso, telur gulung, cilok, cumi bakar sama ceker setan. Malah kuliner otentik Jogja jarang banget Gusti," komentar @riranaila.

Untuk diketahui, dihapusnya agenda pasar malam yang biasanya digelar selama sebulan karena keinginan Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X. Salah satunya untuk mengembalikan semangat Sekaten laiknya era awal Kerajaan Mataram Islam di Jawa.

"Memang ini dawuh Dalem [perintah Sultan] sebetulnya. Ngarso Dalem sempat dawuh [memerintah] kalau alun-alun kalau setiap tahun dipakai pasar malam maka tidak akan pernah bisa bagus, jadi coba dilakukan dua tahun sekali," ungkap KPH Notonegoro yang menjabat Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja, Kamis (3/10/2019).

Menurut KPH Notonegoro, Pasar Malam sebenarnya bukan bagian dari Sekaten yang digelar Kerajaan Mataram selama ratusan tahun. Sekaten digelar untuk mensyiarkan dan memperjuangkan agama Islam. Selain itu jadi wadah dakwah dan memupuk ukhuwah bagi pemeluk Islam yang dipusatkan di Masjid Gedhe Keraton.

Pasar malam dalam sejarahnya merupakan siasat pihak kolonial Belanda untuk mengadang syiar Islam dan menutup potensi pemberontakan dari masyarakat. Karenanya, keraton kali ini mengevaluasi penyelenggaraan pasar malam. Apalagi penyelenggaraan pasar malam menyebabkan kerusakan rumput dan terjadi penumpukan sampah di Alun-alun Utara setiap tahunnya.

Sumber : Suara.com