NB Susilo Rilis Menyingkap Jejak Keadilan Tionghoa

NB Susilo menunjukkan buku Menyingkap Jejak Keadilan Tionghoa, Rabu (9/10)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
10 Oktober 2019 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

 Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM), NB Susilo atau Wang Xiang Jun biasa dipanggil Cun-Cun meluncurkan buku Menyingkap Jejak Keadilan Tionghoa.

Buku yang disusun NB Susilo ini melalui kajian yang mendalam, mulai dari sumber skripsi, tesis, disertasi, media massa, hingga wawancara dilakukannya. Dalam temuanya ia juga melihat, bagaimana kedekatan warga Tionghoa dengan sejarah berdirinya kerajaan Mataram.

Salah satunya hal tersebut dapat dilihat di Kelenteng Gondomanan. Ia mengutip dari buku karya Peter Carey yang menyebutkan Sri Sultan HB II mempunyai hubungan dekat dengan dua orang etnis Tionghoa, yaitu pertama Tionghoa ahli pengobatan di bidang jamu-jamuan. Kedua, istri keduanya yang sangat disayanginya bernama Mas Ayu Sumarsonowati, yang pernah menerima tugas penting untuk membentuk sebuah pasukan khusus Langen Kusuma yang terdiri dari perempuan muda keturunan Tionghoa di daerah pesisiran.

NB Susilo menceritakan buku tersebut lahir dari, pertama kegundahan dan rasa penasarannya sebagai warga Tionghoa di Jogja, terutama terhadap masalah pertanahan. “Kedua mengenai masalah Malioboro yang perlu saya angkat sebagai sejarah karena banyak orang tidak tahu bahwa Malioboro yang dipakai PKL (pedagang kaki lima) adalah lahan toko jadi buku ini bisa jadi bukti hukum tertulis untuk ke pengadilan karena sudah menggugat perdata ke PTUN,” ujar NB Susilo, Rabu (9/10).

Banyak hal menurutnya yang perlu dikritisi terkait dengan keberadaan PKL. Sebab PKL dinilainya bukan ikon dari Kota Jogja lantaran banyak yang menutup lahan toko, yang membayar pajak.

Mantan atlet renang tersebut mengungkapkan sejak zaman dulu, warga Tionghoa terbagi menjadi tiga, yaitu pertama warga yang vokal berani menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kedua, yang gamang atau ragu dan ketiga yang dicap menjadi pengkhianat.

NB Susilo berharap setelah buku ini diluncurkan memberikan manfaat. “Harapan memberikan pelurusan sejarah, memahami warga Tionghoa di Jogja khususnya, karena yang seperti didengungkan selama ini secara TSM (terstruktur, sistematis dan masif)  jadi kebohongan berulang-ulang sehingga [warga Tionghoa] dicap sebagai pengkhianat. Kemudian pemahaman bahwa PKL ikon itu harus diluruskan,” ujarnya.

Selain itu buku ini diharapkan menjadi bukti sejarah dan bukti hukum yang benar. Dia berharap buku ini juga dapat sebagai peninggalannya pada generasi yang akan datang. Buku ini juga sudah dipasarkan di Toga Mas, atau dapat dicari secara daring dengan harga Rp75.000.