Memahami Gap Generasi Y, Z dan Alpha

Siswa Olifant School tengah bereksperimen dalam sebuah kegiatan belum lama ini./ Ist. - Olifant School
10 Oktober 2019 06:12 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Berbicara tentang generasi, tentu tidak dapat dilepaskan dari karakter dari masing-masing generasi.

Ada generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, dan sekarang sudah ada generasi selanjutnya yaitu generasi Alpha. Masing -masing generasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Masing-masing generasi juga memiliki kebutuhan dan fokus yang berbeda.

Marketing Communication Olifant School Mariana Hastuti mengatakan tidak jarang orang tua mengalami atau menemukan kesulitan ketika menjalin komunikasi dengan anak-anak yang berasal dari generasi yang berbeda. Tidak hanya di rumah, tetapi mungkin di tempat kerja dan komunitas lain yang memungkinkan lintas generasi yang saling berinteraksi. "Hal ini sering biasa kita kenal sebagai gap generasi. Perlu bagi kita untuk memahami gap generasi ini terutama dalam kaitannya untuk memahami kebutuhan putra putri tercinta," kata dia dalam rilisnya, Rabu (9/10).

Saat ini Olifant mengajak untuk mengenal dua generasi yang rata-rata berada di usia sekolah. Generasi pertama adalah generasi Z. Generasi ini merupakan anak-anak kelahiran 1995-2010 yang saat ini beberapa di antaranya berada di usia sekolah dari SD-SMA. Generasi ini sering disebut generasi Internet, karena mereka lahir ketika perkembangan teknologi khususnya gadget dan Internet sedang berkembang.

Generasi ini termasuk generasi yang menyukai hal-hal yang cepat dan instan, lebih individual, lebih berpikiran terbuka, memiliki tingkat ketahanan yang tidak terlalu tinggi, dan cepat tertarik dengan hal baru sehingga akan punya kecenderungan berpindah-pindah terhadap minat, dan secara bentuk pekerjaan mereka lebih tertarik dengan dunia wirausaha.

Generasi yang kedua adalah generasi Alpha. Ini merupakan generasi yang lahir dari generasi milenial atau generasi Y. Generasi ini lahir pada saat kemajuan teknologi berkembang pesat. Generasi ini berkembang dengan berbagai kemudahan teknologi dan besarnya arus informasi, serta beragam pilihan untuk hidup mereka.

Masa di mana masing-masing generasi ini berkembang sangat berpengaruh pada pola pikir dan bagaimana masing-masing generasi mengambil keputusan atau menghadapi sebuah situasi. Hal tersebut kadang kala membuat seakan-akan orang tua khususnya akan merasa kesulitan ketika berkomunikasi dengan anak.

Anak-anak yang sudah termasuk generasi Z seringkali merasa bosan atau bahkan melawan ketika merasa bahwa hanya diperintah untuk melakukan sesuatu tanpa merasa dilibatkan. "Sebagai orang tua, tentu kita perlu terbuka untuk memahami serta mempelajari kebutuhan mereka, supaya kita sebagai orang dewasa hadir sebagai fasilitator yang dapat mendampingi mereka untuk berkembang. Memberikan kesempatan untuk mereka mencoba pilihan, dan memberi pengarahan di waktu yang tepat, sehingga anak-anak merasa memiliki kebebasan dalam memilih dengan tetap kita dampingi supaya bertanggung jawab atas pilihannya," ujar dia.

Menjauhkan mereka dengan teknologi dan banjir informasi tentu bukan menjadi solusi. Justru dengan menggunakan teknologi dan memanfaatkan kemudahan teknologi, akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk dapat mengembangkan dirinya dengan lebih maksimal.