Kulonprogo Masih Punya Persediaan 301 Tangki Air Bersih untuk Warga yang Butuh

Sejumlah warga tengah mengantri untuk mendapat bantuan air bersih dalam rangka HUT Kulonprogo ke 68, di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pengasih, Rabu (9/10/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
10 Oktober 2019 05:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kulonprogo menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 107 tangki kepada warga di wilayah terdampak kekeringan, Rabu (9/10/2019). Aksi ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Kulonprogo ke-68.

"Kegiatan ini menjadi bentuk empati dari para pegawai di lingkungan Pemkab Kulonprogo untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan," kata Sekretaris Daerah Kulonprogo, Astungkoro, usai penyerahan simbolis bantuan air bersih di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pengasih, Rabu pagi.

Astungkoro mengatakan droping air masih jadi solusi sementara dalam menghadapi persoalan kekeringan selama musim kemarau di Kulonprogo. Adapun bantuan yang telah disalurkan selama musim kemarau tahun ini sebanyak 770 tanki. Masih tersisa 301 tanki dan siap dikirim ke wilayah yang membutuhkan.

"Prediksi dari BMKG kemarau mundur sampai Desember ya, meski begitu kami pastikan ketersediaan air untuk dikirim aman, anggaran [untuk bantuan droping air] juga cukup sampai nanti hujan datang," ujarnya.

Astungkoro menyadari droping tidak bisa selalu diandalkan. Perlu ada solusi jangka panjang untuk menyudahi persoalan krisis air, semisal menghidupkan Pamsimas lewat pembuatan sumur bor, atau membikin tandon air untuk cadangan di musim kemarau.

Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo bersama instansi terkait tengah melakukan pengecekan di sejumlah wilayah terdampak kekeringan untuk bisa dibuatkan sumur bor. "Ini merupakan solusi jangka panjang dan harus segera diselesaikan, karena kekeringan sudah jadi agenda rutin tahunan," ujarnya.

Kepala Desa Sidomulyo, Kabul mengungkapkan, tujuh dari total 13 dusun di desanya mengalami krisis air. Ketujuh dusun itu yakni Dusun Talunombo, Secang, Banaran, Kemaras, Tabin, Gondangan dan Parakan. Adapun total warga yang terdampak krisis air di tujuh dusun itu mencapai 450 kepala keluarga. 

"Kondisi paling parah di Dusun Banaran dan Kemaras, karena hampir semua KK kesulitan air. Di dua dusun itu juga tidak ada sumber air, di hari-hari biasa warga biasanya nyari air di sungai, tapi karena kering ada yang terpaksa beli ada juga yang mengandalkan bantuan droping," jelasnya.

Pemerintah Desa Sidomulyo bukanya tanpa upaya untuk mengatasi persoalan ini. Lewat bantuan dana APBN dan Anggaran Dana Desa, sebuah pamsimas senilai Rp400 juta selesai dibangun di desa tersebut pada 2018. Tahun ini pembangunan Pamsismas baru juga sedang berproses dan tinggal menunggu untuk dioperasikan.

Namun, Pamsimas yang sudah aktif pada 2018 lalu yang berlokasi di bawah jembatan Sawaking guna memasok kebutuhan air bersih sebagian warga Dusun Parakan, Samaras, Banaran, Secang dan Ngabin belakang tidak bisa digunakan. Musababnya debit air menyusut drastis karena kemarau panjang.