Wisatawan Akan Diajak Tinggal Lama di Kulonprogo

Pertunjukan sendratari Sugriwa Subali di Omah Watu Blencong, Jatimulyo, Girimulyo, pada Kamis (10/10/2019). /Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
11 Oktober 2019 06:37 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Dinas Pariwisata Kulonprogo sedang meninjau rencana induk pembangunan pariwisata daerah (riparda) untuk membuat iklim pariwisata di Kulonprogo lebih baik. Hal ini salah satunya didasari oleh keberadaan YIA di Kulonprogo sebagai bandara baru.

"Alasan kedua, ada penetapan Presiden bahwa kita termasuk kawasan strategis pariwisata nasional yaitu Borobudur. Dari 10 destinasi Bali Baru, ada empat destinasi superprioritas, yaitu Mandalika, Labuan Bajo, Danau Toba, dan Borobudur," kata Niken Probo Laras, Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo di Omah Watu Blencong, Kamis (10/10/2019).

Ia juga ingin mengembangkan wisata berbasis budaya. "Jangan hanya selfie-selfie. Saingannya banyak, konsepnya hampir sama. Dia datang sebentar, lalu pulang," kata dia.

Konsep pariwisata yang instan seperti spot swafoto, menurut Niken, tidak membuat wisatawan ingin lebih lama tinggal di suatu lokasi wisata. "Cuma instagramable, tapi tidak tinggal," ujarnya.

Lain halnya jika wisatawan datang ke lokasi wisata yang memiliki beberapa spot wisata sekaligus. Wisatawan akan seolah dipaksa tinggal lebih lama untuk menikmati berbagai suguhan pariwisata yang ada di daerah tersebut.

"Kalau bisa tinggal lebih lama, nggak cuma homestay yang laku, tapi juga oleh-oleh, bahkan jasa misalnya offroad kan juga ikut laku," kata Niken.

Keberadaan rumah tinggal di suatu lokasi wisata dapat menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama di suatu daerah yang terhubung dengan berbagai spot wisata lainnya. Di Desa Wisata Jatimulyo, sejak tahun 2014 sudah berdiri homestay Omah Watu Blencong.

Pengelola Omah Watu Blencong, Sugito menyebutkan menyambut akhir tahun 2019 ini jasa penginapannya sudah penuh dipesan sampai bulan November. "Kebetulan Desember belum banyak dipesan. Prediksi kami, pada akhir Oktober mendatang, kamar untuk Desember sudah penuh," kata dia.

Pria 61 tahun ini menyebutkan dengan tinggal di rumah tinggalnya, wisatawan akan ditawarkan berbagai paket. "Di sini bisa belajar gamelan, mendalang, atau seni tari. Tapi kalau mau lengkap, bisa menginap dua malam itu bisa sekaligus menjangkau Kebun Teh Nglinggo, Air Terjun Kedung Pedut, Kalibiru, dan Air Terjun Kembangsoka," jelas dia.

Sugito menargetkan wisatawan yang memesan homestay-nya untuk kalangan keluarga dan rombongan. "Di sini kamarnya besar-besar soalnya, jadi buat rombongan," kata dia. Adapun kisaran harga perrumahnya antara Rp600.000 - Rp700.000.