Duh, Lebih dari Separuh Cemara di Sepanjang Glagah-Congot Layu dan Mati

Pengendara sepeda motor melewati pintu gerbang menuju Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Minggu (26/5/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
11 Oktober 2019 07:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Bibit pohon cemara udang dan pule yang ditanam oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sepanjang Pantai Glagah-Congot, Kecamatan Temon pada Mei lalu, banyak yang rusak. Dari 800 pohon yang sudah ditanam, lebih dari separuhnya diketahui telah layu bahkan mati.

"Dari 2.000 bibit bantuan BNPB, yang baru ditanam sebanyak 800, namun dari jumlah itu yang bertahan tidak ada separuhnya, justru lebih banyak yang rusak," ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi, Kamis (10/10/2019).

BPBD Kulonprogo yang ditugaskan untuk merawat pohon tersebut sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya dengan rutin melaksanakan penyiraman. Kegiatan ini dilakukan empat kali dalam seminggu. Namun tetap saja upaya itu belum membuahkan hasil.

Menurut Ariadi kematian pohon yang berfungsi sebagai mitigasi bencana sekaligus sabuk hijau Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) itu lebih disebabkan oleh faktor alam. Dia menyebut faktor alam seperti kemarau dan kencangnya embusan angin membuat banyak pohon cemaran udang dan pule di sana cepat rusak.

Dari hasil pengamatan pihaknya, rata-rata kematian menyasar pohon berukuran kecil. Utamanya pohon yang ditanam langsung di tepi pantai tanpa terlindungi pepohonan lain yang berukuran lebih besar.

Garam laut yang dibawa oleh hembusan angin turut mempercepat kematian pohon-pohon tersebut. Pasalnya, air garam menyebabkan pohon menjadi kering. Dedaunan juga akan rontok dan gosong.

"Jika tidak segera tertangani kemungkinan besar pasti layu dan mati, mau disiram seruting apapun, kalau kondisinya sudah seperti ini tidak akan hidup lagi," ujarnya.

Dikatakan Ariadi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melalui Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Serayu Opak Progo akan kembali melakukan penanaman pohon untuk mitigasi bencana di kawasan tersebut setelah masuk musim hujan.

"Setelah musim penghujan merata, mulai ditanami lagi pertimbangannya karena di musim itu baik untuk penanaman, itu keterangan dari pihak KLH dan BPDASHL," ucapnya.

Penanaman termasuk 1.200 pohon cemara udang dan pule bantuan BNPB. Dari informasi yang ia peroleh, cara penanaman dari KLH dimungkinkan berbeda. Tidak melakukan penyiraman, melainkan menggunakan boks khusus penyimpanan air.

"Kemudian pohon dikurung untuk menahan angin sehingga kemungkinan hidup tinggi, itu saya ketahui saat koordinasi dengan pihak KLH beberapa waktu lalu," jelasnya.

Kepala BPDASHL Serayu Opak Progo, Sri Handayaningsih mengatakan pihaknya akan melakukan penanaman kembali pepohonan yang berfungsi sebagai sabuk hijau di selatan YIA setelah masuk musim hujan tahun ini yang diperkirakan jatuh pada Oktober-Desember.

"Terdapat berbagai pendekatan penanaman yang akan dilakukan nanti, diantaranya dengan pemilihan jenis tanaman, pola tanaman, dan rekayasa media tanam," kata Sri.

Penanaman ini akan dilakukan di lahan seluas 50 hektare di sepanjang Pantai Glagah-Congot. Dari luasan itu, 10 hektare ditanami pandan, 30 hektare untuk cemara udang, dan 10 hektare ditanami tanaman nyemplung, ketapang, dan keben.