Direct Flight, Kunci Kunjungan Wisman ke DIY

Hotel Pandanaran Prawirotaman mengajak wisatawan mancanegara mengenali budaya Indonesia lewat Festival Tarian dan Makanan Tradisional, Kamis (8/8)./ Ist - Hotel Pandanaran Prawirotaman.
13 Oktober 2019 05:37 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Adanya penerbangan dari luar negeri ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi kunci banyaknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo mengungkapkan ada tiga hal utama yang harus diperhatikan saat berbicara soal pariwisata yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Untuk atraksi, DIY sudah memiliki beragam atraksi yang unik, menarik, dan mampu menyedot kunjungan wisatawan.

"Jumlah dan kualitas atraksi di DIY enggak kurang-kurang baik yang budaya, alam, MICE [Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition], dan industri kreatif. Semuanya keren dan daya tariknya luar biasa," ujar dia, Sabtu (12/10/2019).

Sementara untuk aksesibilitas adalah berkaitan dengan bagaimana wisatawan datang ke sebuah daerah baik melalui darat, laut, maupun udara. Untuk aksesibitas di DIY ada tambahan akses yakni dengan dibangunnya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo.

"Untuk soal akses, ibaratnya sudah terselesaikan. Tetapi, untuk mendatangkan wisman, enggak bisa berhenti di situ saja," kata dia.

Menurutnya, YIA memang bagus, luas, dan mampu menampung hingga 20 juta penumpang per satu tahun. Tetapi, kelebihan itu harus diikuti dengan adanya direct flight atau penerbangan langsung dari luar negeri ke YIA.

"Kalau enggak ada [direct flight], enggak akan ada kenaikan kunjungan wisman yang signifikan. Direct flight itu kunci karena bisa pangkas harga jadi murah dan waktu jadi efisien. Oleh karena itu diharapkan direct flight bisa segera terealisasi," terang dia.

Selain itu, transportasi dari dan menuju YIA juga harus diperbaiki. Transportasi tersebut menjadi bagian yang harus dipercepat proses revitalisasinya. "Destinasi juga harus diperbaiki agar bisa berstandar internasional. Ini sedang dilakukan penataan," ujar dia.

Faktor ketiga sebagai kunci majunya wisata yakni amenitas. Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) diharapkan mampu mengambil bagian dalam hal ini. PHRI diharapkan bersatu sehingga menjadi kekuatan besar. "Untuk low season bisa saja ada insentif, bergabung dengan industri lain. Ajak industri lain untuk jadikan hotel jadi hunian yang nyaman dan jadi green hotel," kata dia.

Negara Baru

Singgih menyampaikan selama ini penerbangan langsung yang ada hanya dari Singapura dan Malaysia. Ke depan, pasar Eropa seperti Belanda dan Prancis akan digarap, begitu juga dengan Australia.

PTS General Manager Bandara Internasional Yogyakarta Agus Pandu Purnama mengungkapkan untuk penerbangan internasional di YIA direncanakan sudah beroperasi pada April 2020. Sebab, butuh persiapan yang panjang untuk pemasangan alat seperti dari Kantor Imigrasi, Bea Cukai, dan Karantina. Proses pemasangan itu diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan.

Pandu menyebutkan mulai 1 Mei 2019 jam operasional YIA menjadi dari 06.00-16.00 WIB. Kemudian, mulai Januari 2020 setelah ada pengalihan penerbangan (operasional penerbangan domestik secara penuh), jam operasional akan bertambah menjadi dari 05.00-23.00 WIB. "Kemudian, mulai April 2020, saat full operasional penerbangan domestik dan internasional, jam operasional menjadi 24 jam," ujar dia.