Merasa Mampu, Warga Penerima PKH Asal Siyono Mundur

Warga mengantri mengambil dana Program Keluarga Harapan (PKH). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
16 Oktober 2019 20:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Seorang penerima program keluarga harapan (PKH) bernama Siti Tresnowati, warga Dusun Siyono Kidul, RT44/RW08, Desa Logandeng, Kecamatan Playen, secara sukarela mundur dari keanggotaan penerima manfaat PKH dari pemerintah, belum lama ini.

Siti mundur karena merasa sudah tak berhak menerima bantuan tersebut. Bantuan yang selama tiga tahun diterima kini telah mampu mengubah dan membuat ekonomi keluarganya meningkat. "Alhamdulillah selama bantuan PKH saya bisa menggunakan uangnya untuk modal usaha kecil-kecilan," kata Siti saat ditemui Harian Jogja, Rabu (16/10/2019).

Sebelum menerima PKH, keluarga Siti masuk kategori keluarga kurang mampu. Namun, setelah beberapa tahun menerima bantuan, secara berangsur ekonomi keluarganya semakin meningkat.

Ia menuturkan bantuan PKH selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit untuk keperluan modal usaha di bidang konveksi. Akhirnya, Siti berhasil membeli dua mesin jahit untuk memulai usahanya.

Setelah merasa cukup, Siti memilih mundur dari program PKH. Dia beralasan ingin memberikan kesempatan warga lainnya untuk menerima bantuan pemerintah itu. Ia berharap agar warga yang masih menerima agar memanfaatkan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Koordinator Pendamping PKH Desa Logandeng dan Desa Getas, Kecamatan Playen, Andani Ratna Setiawan, menuturkan Siti merupakan salah satu keluarga penerima PKH yang bisa berjuang menuju kesejahteraan. Siti merupakan salah satu dari 245 penerima PKH yang didampinginya. ”Dia bisa mandiri dan kemudian keluar secara sukarela," kata dia.

Andani menuturkan setiap anggota memiliki jadwal untuk menggelar Family Development Session (FDS). Kegiatan tersebut digunakan para pendamping untuk membimbing dan memberikan motivasi kepada para penerima PKH demi kesejahteraan bersama. "Setiap bulan kami menggelar pertemuan. Kami memberikan pengarahan tentang pendidikan keluarga dan memberikan motifasi bagi para penerima PKH untuk sukarela mengundurkan diri jika merasa sudah mampu," ujarnya.