Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Kondisi tebing ambrol yang ada di rumah kediaman Sudarto, 55 tahun, warga Dusun Menggermalang, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Rabu (28/11/2018). /Harian Jogja-Uli Febriarni
Harianjogja.com, KULONPROGO - Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugraha menyebut ada 18 early warning system atau alat deteksi dini longsor yang tidak berfungsi dengan baik.
Di seluruh Kulonprogo, BPBD Kulonprogo telah menyebar 90 EWS. Namun, hanya 72 EWS yang berfungsi dengan baik. "Ada yang sudah berada di kami, ada yang masih di masyarakat. Belum kami perbaiki karena menurut kami belum mendesak," kata Hepy.
Ia menjelaskan keberadaan EWS longsor perlu dipahami warga sebagai penanda tanah retak yang berpotensi longsor dan bukan pendeteksi getaran tanah. "Fungsi EWS dipasang jika di sana ada potensi retakan yang bisa longsor," jelasnya.
Peletakkan EWS tidak bisa dilakukan di setiap titik, melainkan di tempat-tempat tertentu dengan tanah retak yang berpotensi longsor. Dengan demikian, pemasangan EWS hanya menjadi alat peringatan bagi warga bahwa tanah barangkali meluncur. "EWS hanya untuk satu titik [tanah yang berpotensi longsor], enggak bisa untuk satu kawasan," ujarnya.
Bahkan ada salah satu kawasan di Soropati, Hargotirto, Kokap yang ia pasangi dua EWS sekaligus karena retakannya terlalu panjang. "Untuk mendeteksi retakannya mana yang meluncur ini kan belum tahu," katanya.
Meski begitu, tak setiap waktu EWS menyala dan menjalankan fungsinya. Kepala Desa Sidomulyo, Kabul, mengaku dirinya mematikan EWS di desanya pada musim kemarau karena dirasanya tidak berfungsi. "Nanti dihidupkan saat mau musim hujan," kata Kabul.
Menanggapi hal ini, Hepy menyerahkan sepenuhnya pemeliharaan EWS pada masyarakat. "Tidak mungkin BPBD merawat seluruh EWS, jadi kami serahkan pada warga. Beberapa desa yang sudah terbiasa dengan bencana memang bisa saja mematikan EWS sementara waktu," kata dia.
Ia menekankan, meskipun sudah dipasangi EWS, pemahaman warga terkait apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana perlu ditingkatkan. "Yang lebih penting adalah kesiapan warga," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.