Terparah dalam Beberapa Tahun Terakhir, 6.200 Hektare Tanaman Padi di DIY Rusak

Ilustrasi - pompa air untuk irigasi sawah.JIBI
01 November 2019 05:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Dampak kemarau panjang yang terjadi di wilayah DIY tidak hanya menyisakan kesulitan warga memperoleh air bersih. Namun petani juga harus menelan kerugian akibat gagal panen di tanaman padi. Sedikitnya 6.208 hektare tanaman padi rusak tersebar di 28 kecamatan, sebanyak 2.921 hektare di antaranya puso alias gagal panen.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana menjelaskan selain berdampak pada kebutuhan air bersih bagi warga, bencana kekeringan di DIY juga menimbulkan kerugian di sektor pertanian. Berdasarkan data yang dikumpulkan BPBD DIY, kata dia, tercatat untuk Gunungkidul terdapat 5.597 hektare tanaman padi rusak yang tersebar di 11 kecamatan.

Sebanyak 2.700 di antaranya puso, 2.003 hektare rusak ringan, 762 hektare rusak sedang dan 132 hektare padi rusak berat. “Gunungkidul ini yang paling parah dampaknya,” terangnya, Kamis (31/10/2019).

Setelah Gunungkidul, lanjutnya, disusul Kulonprogo dengan jumlah kerusakan total 378 hektare, terdiri atas 36,5 hektare puso, 258 hektare rusak ringan, 59 hektare rusak sedang dan 56,5 hektare rusak berat. Sedangkan di Bantul tercatat 85,5 hektare tanaman padi rusak, terdiri atas 37 hektare gagal panen.
“Kemudian di Sleman 148 hektare yang puso itu berada di satu kecamatan, data ini per Agustus [2019] kemarin, setelah itu tidak ada yang menanam lagi,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Sasongko mengakui, dampak kekeringan terhadap sektor pertanian terutama tanaman padi di 2019 ini merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, meski pun ada sekitar 2.700 hektare tanaman padi yang gagal panen tersebut, tidak mempengaruhi volume produksi beras di DIY. Alasannya secara umum, produksi beras bisa dipenuhi dari daerah lain yang tidak terkena dampak.

“Jadi kalau secara umum memang tidak berpengaruh signifikan, kecuali di sekitar wilayah [yang gagal panen], tetapi itu bisa dipenuhi dari daerah lain, karena beberapa daerah juga banyak yang masih bisa menghasilkan padi di musim ini,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagian besar terdampak merupakan wilayah sawah tadah hujan, sehingga tidak ada solusi yang berarti kecuali menghindari tanaman padi dengan beralih ke palawija. Upaya pembuatan sumur bor khusus untuk pertanian di wilayah terdampak ini juga belum tentu menyelesaikan masalah, karena belum tentu menemukan sumber air.

“Satu-satunya cara, ya kami mengingatkan kepada petani, agar menghindari menanam yang beresiko tinggi dan butuh air, tetapi banyak yang sekedar ingin mencoba-coba, siapa tahu bisa panen. Pantauan kami, tahun ini memang lumayan parah,” ucapnya.