EWS Banjir Lahar Merapi Rusak & Dicuri

Ilustrasi lahar Merapi. - Harian Jogja/Dok
01 November 2019 20:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperkirakan volume lahar yang tersisa di puncak Merapi sekitar 20 juta-25 juta meter kubik. Early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini tak sepenuhnya berfungsi karena rusak dan ada yang dicuri.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan EWS harus siap karena DIY memasuki musim hujan.

“Dengan volume lahar 20 juta-25 juta meter kubik yang tersisa, diperkirakan semuanya mampu tertampung di aliran normalisasi sungai dan dam yang sudah dibuat berlapis,” ujar Joko, Jumat (1/10/2019).

Berdasarkan data di BPBD Sleman, total ada 13 EWS lahar yang terpasang di sisi barat dan timur lereng Merapi.

Pada sisi barat terdapat empat di Turgo, Kemiri, Pulowatu, dan Rejodani. Adapun di sisi timur tersebar di Ngerdi, Jambon Lor, Bronggang, Jarangan, Kowang, Banjarsari, Kopeng, Kalitengah Kidul, dan Petung.

Namun, banyak EWS yang rusak. “EWS yang ada di sisi barat semua sensornya tidak berfungsi, sehingga pemantauannya hanya dengan CCTV. Sementara yang di bagian timur, dari awal memang tidak dilengkapi sensor tetapi mengandalkan CCTV,” kata Joko.

Ada juga perangkat EWS yang hilang, seperti EWS di Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan.

Beberapa alat seperti sirine, amplifier, dan sensor hilang sejak sekitar tiga bulan yang lalu. Namun, perangkat CCTV masih ada dan bekerja dengan baik.  “Perangkat yang hilang adalah peralatan yang terpasang di bawah. Kalau dihitung nilainya sekitar Rp15 juta-Rp20 juta. CCTV masih bekerja dengan baik dan tidak ikut dicuri,” terangnya.

Perangkat EWS yang hilang berada di dekat jalan dan sering digunakan untuk tempat berkumpul.

BPBD menggantinya dengan peralatan darurat berupa aki, sirine, dan remote.

“Kami juga punya teknologi sinyal FM radio. Ketika sukarelawan membuka aplikasi radio lewat smartphone mereka masing-masing di frekuensi 91.3, apabila ada kejadian banjir lahar, mereka akan segera mengetahuinya,” kata Joko.