Perwakilan 24 Negara Hadiri 7th ATTS

President of TTASSEA, GKBRAA Paku Alam (tiga dari kiri) menjelaskan ihwal 7th ASEAN Traditional Textile Symposium, di Ruang Donoworo Barat, kompleks Puro Pakualaman, Jogja, Selasa (29/10/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
05 November 2019 17:22 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Perhelatan akbar Simposium Wastra ASEAN VII (7th ASEAN Traditional Textile Symposium atau ATTS) digelar di Royal AmbarrukmoYogyakarta Hotel, Sleman, Selasa (5/11/2019). Tercatat ada perwakilan dari 24 negara yang hadir di simposium internasional tersebut.

Dalam acara yang rencananya digelar hingga Jumat (8/11) tesebut, lebih dari puluhan pembicara dan pemerhati wastra dari bakal mempresentasikan makalah penelitian mereka terkait dengan wastra.

Di antaranya Christopher Buckley (Universitas Oxford, Amerika Serikat) dengan makalah Tenun di ASEAN: Berbagi Sejarah, Tema Bersama; Jadin Jamaludin (Indonesia) dengan makalah Safe Guarding: Menjaga Tekstil Tradisional Indonesia; James Bennett (Australia) dengan makalah berjudul Gambar Figuratif dan Islam dalam Batik Jawa. Selain itu masih ada beberapa pemakalah lainnya, yakni Shigemi Sakakibara dari Jepang dan I Wayan Rai dari Indonesia.

Selain itu berbagai acara pendukung juga digelar, di antaranya adalah kompetisi rancang dan fotografi. Tercatat ada 30 finalis dalam kompetisi fotografi dan kompetisi desain tas dan aksesori serta 10 finalis dalam kompetisi desain sarung dan syal. Sebanyak 26 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah telah dipilih dan memamerkan produk tekstil mereka di Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel.

Ketua Panitia 7th ATTS, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, mengatakan sejak diprakarsai pada 2009 hingga kini, Masyarakat Wastra Asia Tenggara (TTASSEA) telah mengalami berbagai perkembangan yang signifikan.

Perkembangan tersebut meliputi berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia, komunikasi internasional, hingga hubungan kerja sama internasional. 7Th ATTS, kata dia, sangat penting, terutama bagi mahasiswa desain dan tekstil, pelaku wastra, peneliti wastra di perguruan tinggi, pecinta wastra Asia Tenggara, dan pemerhati budaya, khususnya budaya material.

7Th ATTS tidak hanya menyediakan panggung untuk saling berbagi pengetahuan dan mengupayakan jalinan persahabatan wastra tetapi juga meningkatkan kolaborasi kalangan akademis, pelaku bisnis, dan pelaku wastra di lapangan. "Acara ini terbuka untuk umum dan kami mengundang masyarakat untuk turut hadir memeriahkannya," kata GKR Hemas, Selasa.

Cerminan Identitas

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid menjelaskan wastra sejatinya merupakan cerminan identitas serta menjadi media penyalur pengetahuan, budaya, dan seni lintas generasi.

Sejalan dengan amanah UU No.5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dalam upaya perlindungan, hingga tahun ini Kemendikbud telah menetapkan sebanyak 39 wastra Nusantara jadi Warisan Budaya Tak Benda,.”Di antaranya batik, ulos, tenun ikat dan songket,” ujar dia.

President of TTASSEA, GKBRAy Adipati Paku Alam X mengatakan selain diikuti delapan negara anggota ASEAN, gelaran 7Th ATTS juga dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Australia, India, Kanada, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru, China dan beberapa negara Uni Eropa. “Selama simposium akan tampil 23 pembicara yang merupakan pemerhati wastra dari 16 negara,” ucap istri dari Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X tesebut.