Bus Besar Sebabkan Kemacetan di Jogja, Pemkot Ingin Geser Parkir ke Luar Kota

Ilustrasi macet di Kota Jogja. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
11 November 2019 20:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tingginya wisatawan yang berkunjung ke Jogja pada akhir pekan lalu menimbulkan kemacetan di sejumlah ruas jalan. Kesemerawutan diperparah dengan banyaknya bus wisatawan yang masuk ke Kota Jogja.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan jawatannya bisa saja melarang bus-bus wisatawan untuk masuk ke Kota Jogja. Namun, kebijakan tersebut belum mampu memberikan solusi.

“Kalau melarang bus masuk Kota Jogja gampang, tinggal pasang plang larangan selesai. Tetapi itu bukan solusi untuk saat ini,” katanya kepada wartawan, Senin (11/11/2019).

Sebaliknya, kata Agus, saat ini yang dibutuhkan adalah ketersediaan lahan parkir di luar pusat kota. Begitu juga dengan ketersediaan angkutan seperti bus Trans Jogja dari lokasi parkir bus di luar pusat kota ke pusat kota.

“Kami terus berkoordinasi dengan Dishub DIY terkait ketersediaan lahan parkir untuk bus pariwisata ini,” katanya.

Menurut Agus, pada libur akhir pekan lalu terjadi peningkatan jumlah bus pariwisata yang masuk ke Jogja. Puncaknya terjadi pada Sabtu (9/11/2019). Jumlah bus pariwisata yang masuk kota Jogja mencapai 1.100 unit. Padahal kapasitas parkir yang ada di kawasan utama wisata yaitu di Parkir Senopati, Abu Bakar Ali dan Ngabean hanya antara 230 hingga 300 unit.

Adapun kapasitas satuan ruang parkir untuk bus pariwisata berukuran besar di ketiga lokasi tersebut rata rata hanya mencapai 98 unit. “Karena jumlah bus yang masuk banyak dan ruang parkir tidak mencukupi, terjadi luberan parkir bus di tepi jalan. Kami tetap berupaya agar bus tidak parkir di tepi jalan,” katanya.

Pemkot, lanjut Agus, terus mendorong percepatan tersedianya lokasi parkir khusus bus pariwisata untuk mengurangi potensi kepadatan dan kemacetan saat masa liburan. Salah satunya di lahan bekas STIE Kerja Sama. Pemkot juga mewacanakan untuk menyewa lahan parkir di sisi Timur Gor Amongrogo untuk parkir bus pariwisata.

“Saat ini kami menghitung kebutuhan satuan ruang parkir [SRP] dan menyiapkan data teknis lainnya. Kami berharap agar lahan parkir tersebut bisa terwujud dalam waktu dekat,” katanya.

Selain menyiapkan data teknis, kata Agus, Dishub juga menggarap aspek sosial untuk penyediaan lokasi parkir. Termasuk berkoordinasi dengan asosiasi perhotelan, biro perjalanan wisata serta pemandu wisata. “Kami juga harus memikirkan bagaimana akses wisatawan ke tempat wisata di Jogja,” katanya.

Dibandingkan menggunakan armada shuttle seperti Si Thole, kata Agus, pengangkutan penumpang dari parkir bus lebih optimal menggunakan Trans Jogja. Alasannya selain mampu membawa lebih banyak jumlah penumpang, Trans Jogja juga memiliki trayek ke sejumlah lokasi wisata. “Tetapi kami masih akan mengkaji apakah perlu ada koridor baru atau armada hanya disiapkan saat masa liburan saja, itu masih dalam pembahasan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dishub DIY Sigit Sapto Raharjo mengatakan kemacetan yang terjadi di Jogja tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan kendaraan di DIY saja tetapi juga kendaraan yang melewati DIY. Kondisi tersebut tidak terlepas dari status DIY sebagai kawasan wisata sehingga berdampak pada meningkatnya volume kendaraan.

“Bagaimana bus-bus besar itu tidak masuk ke dalam kota itu menjadi keinginan kami, tetapi kewenangannya ada di Kota Jogja,” tutur Sigit.

Menurut Sigit, ada sejumlah alternatif lokasi parkir yang jauh dari kota. Seperti Eks STIE Kerja Sama, JEC, Terminal Jombor maupun Terminal Giwangan. Wisatawan kemudian bisa diangkut dengan kendaraan freeder seperti Trans Jogja. Bisa juga menggunakan shuttle wisata Si Thole. “Kalau bus-bus wisata tidak masuk ke area kota selain mencegah terjadinya kemacetan, lahan parkirnya juga bisa digunakan untuk parkir sepeda motor dan mobil,” katanya.