Petani di Patuk Sukses Panen Cabai Rawit

Seorang petani cabai di Desa Putat, Kecamatan Patuk, memanen cabai di lahan yang digarap, Sabtu (16/11/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
18 November 2019 06:17 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau yang masih terus terjadi membawa berkah bagi para petani cabai di Kecamatan Patuk. Isnanto, 50, salah seorang petani cabai rawit di Dusun Putat, Desa Putat, sukses memanem cabai rawit miliknya di tengah puncak musim kemarau tahun ini. Menurutnya, cabai rawit merupakan tanaman yang cocok ditanam saat kemarau, sehingga dirinya bisa panen setiap pekan.

"Panen minggu ini merupakan panen ketiga kalinya. Musim kemarau tahun ini sangat pas untuk menanam cabai rawit," kata Isnanto saat ditemui Harian Jogja di ladang miliknya, Sabtu (16/11/2019).

Isnanto mengungkapkan tanaman cabai rawit ditanam sejak awal musim kemarau sekitar Juni 2019. Tak ada cara khusus yang dilakukan untuk merawat tanaman tersebut. Menurut Isnanto, tanaman cabai hanya butuh penyiraman setiap hari.

Dijelaskan Isnanto, berbeda dengan wilayah lain yang dilanda kekeringan, selama kemarau wilayah Desa Putat masih memiliki air irigasi yang mencukupi untuk menanam tanaman hortikultura. Air sungai masih mengalir lancar dan bisa digunakan untuk menyirami tanaman. "meski kemarau, air untuk menyirami tanaman masih mencukupi," ujarnya.

Untuk sekali panen Isnanto mengaku bisa memetik cabai rawit hingga 25 kilogram dan dijual dengan harga di kisaran Rp35.000 per kilogram. "Saat puncak musim panen seminggu bisa panen hingga tiga kali," ujarnya.

Kabid Ketahanan Pangan Dinas Petanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan, mengungkapkan musim kemarau tahun ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan musim hujan berhenti lebih cepat dan hujan datang lebih lambat.

Ia mengakui jika tanaman tanaman hortikultura sangat cocok ditanam para petani di tengah musim kemarau yang cukup panjang ini, salah satunya cabai rawit. “Kebanyakan petani di Gunungkidul memanfaatkan tanaman hortikultura seperti cabai, terung, bawang merah dan lainnya,” kata Fajar.

Ia menuturkan tanaman hortikultura selain membutuhkan air yang tidak banyak, juga mudah dalam perawatan. Selain itu, hasil panen tanaman hortikultura juga bisa bersaing di pasaran. “Jika para petani memanfaatkan lahan mereka di musim kemarau dengan menanam hortikultura, maka bisa mendatangkan penghasilan dibanding tanaman lainnya,” kata Fajar.