Google News, AJI Indonesia, & Internews Latih Awak Harian Jogja Identifikasi Hoaks

Logo Google - Reuters/Hannah McKay
22 November 2019 18:07 WIB Budi Cahyana Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Google News Initiative (GNI), bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Internews,  dan Harian Jogja menggelar pelatihan untuk mengenali dan mencegah hoaks yang beredar di internet, terutama medsos, selama dua hari pada 23-24 November. Pelatihan yang diiikuti 16 awak redaksi Harian Jogja ini diadakan di kantor Harian Jogja, Jl. AM Sangaji No.41, Kota Jogja.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengatakan pelatihan ini sangat penting untuk membekali awak redaksi Harian Jogja kemampuan mengenali hoaks dan higienitas digital.

“Saat ini, suka atau tidak suka masyarakat disuguhkan berbagai macam informasi dari media massa maupun medsos. Sayangnya banyak konten di medsos menampilkan informasi yang belum tentu kebenarannya,” kata Anton, Jumat (22/11/2019).

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informasi, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 132,7 juta orang. Di sisi lain, sekitar 800.000 situs di Indonesia terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Adapun menurut catatan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), pada 2018 terdapat 997 hoaks yang tersebar melalui medsos. Tahun ini, terutama sebelum Pilpres, rata-rata 100 hoaks berkonten politik berseliweran di medsos tiap bulan.

“Penyebaran hoaks sangat banyak, dalam bentuk teks, video maupun gambar, bisa lewat Twitter, Whatsapp, maupun Facebook. Informasi yang belum jelas harus diverifikasi karena medsos adalah salah satu penyumbang hoaks terbedar. Jika ada, sangat kecil media massa mainstream yang menyebarkan hoaks karena ada berbagai lapisan verifikasi sehingga informasi yang ditempilkan bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Anton.

Namun, di medsos, warganet dengan mudah memanipulasi konten, misalnya video, dengan tujuan tertentu. “Celakanya, unggahan-unggahan berisi informasi palsu tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak orang meski belum bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya video tentang gempa yang terjadi sudah lama kemudian diedit seolah-olah baru terjadi. Konten-konten semacam ini harus diketahui agar masyarakat menerima informasi yang benar dan terverifikasi,” ujar dia.

Dalam pelatihan ini, peserta akan dilatih menggunakan tools yang tersedia di Google untuk mengidentifikasi hoaks berupa gambar, video, atau teks. Pelatihan digelar serentak di 23 newsroom di seluruh Indonesia.

“Saatnya media massa bersatu melawan hoaks dan memberikan edukasi kepada masyarakat,” ucap Anton.