Penganggur di Sleman Akan Didata Rinci

Para pencari kartu kuning saat mengantre di Disnakertrans Bantul, Senin (18/11/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
04 Desember 2019 09:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemkab Sleman akan terus melakukan penurunan angka pengangguran. Untuk validasi jumlah pengangguran di Sleman, mulai 2020 Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman akan melakukan pendataan by name by address.

Kepala Disnaker Sleman Sutiasih mengatakan pendataan tingkat pengangguran di wilayah Sleman ini untuk menvalidasi data real pengangguran di wilayah Sleman. Jika data by name by address pengangguran sudah masuk dalam data base, hal itu akan mempermudah Dinas untuk menerapkan program sesuai kebutuhan.

"Memang data pengangguran sangat dinamis. Pendataan pengangguran sesuai by name by address tetap akan kami lakukan uji coba mulai tahun depan," kata Sutiasih saat ditemui di kantornya, Selasa (3/12/2019).

Jika database pengangguran valid, katanya, maka Pemkab akan lebih mudah untuk menyiapkan program penurunan pengangguran yang sesuai kebutuhan dan tepat sasaran.

"Selain menyediakan informasi lowongan, setiap tahun kami menyediakan berbagai pelatihan kepada warga baik di BLK [balai latihan kerja] maupun LPK [lembaga pelatihan kerja] swasta yang berkerja sama dengan Pemkab," katanya.

Hasilnya, kata Sutiasih, dari sekitar 1.932 peserta yang mengikuti pelatihan tahun lalu lebih dari 50% atau sekitar 1.000 peserta terserap tenaga kerja. Sebagian lainnya bahkan mampu membuka usaha sendiri alias berwirausaha. Ada yang membuka salon, las besi dan sebagainya.

Hingga kini tercatat tingkat pengangguran di Sleman sebesar 34.679 orang. Tingkat pengangguran di Sleman didominasi lulusan SMA/SMK sebanyak 12.362 orang, disusul lulusan SMP/MTs sebanyak 7.361 orang, lulusan SD sebanyak 5.396 orang dan tidak tamat SD sebanyak 3.840 orang.

Jumlah pengangguran lulusan sarjana juga tidak sedikit. Disnaker Sleman mencatat lulusan akademi yang masih menganggur sebanyak 2.255 orang dan lulusan sarjana yang masih belum bekerja mencapai 2.465 orang. "Nah data ini akan menjadi acuan bagi kami untuk melakukan pendataan ulang by name by address," katanya.

Kebutuhan kerja di wilayah Sleman, kata Sutiasih juga didominasi lulusan dari SMA/SMK disusul lulusan akademi dan sarjana. Adapun lapangan kerja yang dibutuhkan di Sleman didominasi di sektor industri pengolahan (28%), jasa perdagangan besar dan eceran (27%), akomodasi makan dan minum (26%).

Sebelumnya Bupati Sleman Sri Purnomo mengakui jika angka pengangguran di Sleman masih terbilang tinggi. Sri menyebut angka pengangguran di Sleman sekitar 5,76%. "Angka pengangguran berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga sarjana. Dari jumlah tersebut, paling banyak pengangguran lulusan SMA SMK," katanya.

Dia berharap, kegiatan-kegiatan job fair yang digelar selama ini mampu menurunkan tingkat pengangguran di Sleman. Pemkab selama ini juga terus memberikan akses informasi bagi para pekerja untuk menemukan lowongan kerja sesuai kebutuhannya.